Rabu, 29 Maret 2017

world-economy  World Economy

Hindari Pailit, Pemda China Dipersilakan Roll Over Hutang

Jumat, 3 Januari 2014 12:31 WIB
Dibaca 745

Monexnews - Pemerintah China akhirnya memberikan lampu hijau kepada pemerintah-pemerintah daerah (pemda) untuk menerbitkan obligasi sebagai cara agar mereka tidak bangkrut. Berdasarkan pernyataan National Development and Reform Commission, penggalangan dana segar melalui penjualan surat hutang dianggap sebagai cara terbaik saat ini.

Pihak pusat mempersilakan pemda yang memiliki hutang menggunung untuk melakukan roll over atau peminjaman baru. Secara harfiah, roll over bisa diartikan sebagai investasi ulang pada aset yang sudah jatuh tempo melalui penerbitan surat hutang baru. Jadi, pemda akan memakai modal dari penerbitan obligasi baru untuk melunasi hutang lamanya. Dengan demikian, pemda tidak perlu sampai pailit karena kehabisan sumber keuangan untuk beroperasi.

Tadinya pemerintah pusat sangat alergi terhadap wacana penerbitan obligasi baru untuk membiayai hutang yang lama. Pihak Beijing takut kalau gelembung hutang sewaktu-waktu meledak di beberapa wilayah karena cara roll over memang kerap dianggap sebagai jalan pintas yang menyesatkan.

Seperti diketahui, fakta mengejutkan muncul dari China di awal pekan ini. Kantor Audit Nasional negara itu menyatakan bahwa jumlah hutang pemerintah-pemerintah daerah melonjak hingga ke angka fantastis. National Audit Office dalam pernyataannya menyebut total hutang yang harus dibayarkan oleh pemerintah berbagai daerah adalah sebesar 17.9 triliun Yuan ($3 triliun) atau setara Rp36 ribu triliun! Angka yang dikompilasi pada bulan Juni lalu itu jauh lebih besar ketimbang total hutang tahun 2010 yang 'hanya' 10.7 triliun Yuan. Pelaku ekonomi pun mulai khawatir kalau besarnya hutang pemda berdampak pada krisis dana tunai di pasar.

Terlepas dari besarnya beban pembayaran pemda, kantor audit mengklaim jumlah itu masih terkendali. Pemerintah menilai total hutang pemerintah lokal masih lebih kecil dibandingkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jepang dan Spanyol. Kalaupun ada hal yang menakutkan tak lain adalah cepatnya laju pembengkakan hutang tersebut. Trend pembangunan infrastruktur beberapa tahun terakhir memang memaksa pemda untuk meminjam uang lebih banyak. Di sisi lain, kesukaan pemerintah untuk meminjam uang (kredit) menimbulkan kekhawatiran tersendiri karena dalam sejarahnya, berbagai krisis finansial berawal dari instabilitas pasar kredit.

China kini ditantang untuk menghilangkan ketergantungannya terhadap pinjaman kredit. Pemerintah pusat sedikit banyak sudah melakukan antisipasi untuk menangkal gejolak dana di pasar tahun ini. Otoritas menguji daya tahan sistem keuangan dengan memompa uang baru nyaris senilai $50 miliar untuk berjaga-jaga. Pun demikian, banyak pihak menilai pemerintah telat melakukan tugasnya karena mereka seharusnya bisa melakukan itu lebih cepat sehingga potensi kekurangan dana tunai bisa diminimalisasi.

Secara garis besar, pertumbuhan ekonomi melambat di negeri tirai bambu. China diprediksi membukukan kenaikan nilai GDP 7.6% untuk periode 2013 atau sedikit di atas target awal pemerintah pusat. Namun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, rasio pertumbuhan jelas lebih rendah. Pada 2010, China mencatat pertumbuhan GDP 10.4%, kemudian 9.3% di 2011 dan 7.8% pada tahun lalu.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar