Selasa, 23 Mei 2017

breaking-news Ifo: Indeks Iklim Bisnis Jerman naik ke 114.6 di Mei dari 112.9 di April, estimasi 113.1.

world-economy  World Economy

Inflasi Indonesia di Bulan Agutus Naik 8.79%

Senin, 2 September 2013 11:56 WIB
Dibaca 501

Monexnews - Inflasi Indonesia naik ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun di bulan Agustus seiring meningkatnya harga makanan, transportasi dan pakaian secara musiman selama perayaan Idul Fitri pada awal bulan Agustus.

Rupiah telah terdepresiasi sebesar 13 % terhadap dollar sepanjang tahun ini dan juga mulai memberikan dampak inflasi sehingga memberikan tekanan pada bank sentral untuk naikan suku bunga lebih lanjut.

Badan Statistik Nasional pada hari Senin mengatakan bahwa inflasi di bulan Agustus untuk tingkat tahunan naik menjadi 8.79% dari 8.61% di bulan Juli dan ini merupakan kenaikan terbesar sejak Januari 2009, ketika inflasi mencapai level 9.17%.

Dari bulan sebelumnya, harga-harga sudah baik sebesar 1.12%, dibandingkan dengan kenaikan 3.29% pada bulan sebelumnya. Kepala Badan Statistik Nasional, Suryamin mengatakan dalam konfrensi pers bahwa harga pakaian, makanan, dan pendidikan adalah pendorong terbesar naiknya harga di bulan Agustus.

Perkiraan median pada inflasi tingkat tahunan dari sembilan ekonom regional yang di survei oleh Dow Jones Newswire sebesar 8.94%, sementara itu perkiraan median dari delapan orang ekonom  memperdiksi untuk tingkat bulanan akan naik 1.23%.

Inflasi inti, yang tidak termasuk komponen harga yang bergejolak dan administrasi, naik sebesar 4.48% di bulan Agustus, ini relatif stabil dibandingkan dengan bulan Juli yang naik sebesar 4.44%.

Bank Indonesia, dalam pertemuan pada hari Kamis telah menaikan suku bunga acuan BI sebesar 50 bps menjadi 7 % seiring bank sentral naikan perkiraan inflasi pada akhir tahun antara 9.0% sampai 9.8% dari perkiraan 8% yang di katakan pada bulan Juni.

Naiknya suku bunga hanya dua pekan setelah bank sentral abaikan untuk adanya kenaikan suku bunga, yang mana itu membuat merosotnya bursa saham Indonesia dan rupiah seiring para investor khawatir bahwa bank sentral tidak berbuat cukup banyak dalam meredam kenaikan inflasi dan membantu perbaiki lebarnya defisit current account.

(fsyl)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `