Senin, 23 Oktober 2017

world-economy  World Economy

Investor AS Jauhi Negara Berkembang, Larikan Modal ke Eropa

Jumat, 31 Januari 2014 14:29 WIB
Dibaca 701

Monexnews - Investor asal Amerika Serikat kembali meminati aset-aset keuangan berbasis Eropa setelah produk finansial asal negara berkembang tidak lagi menarik. Arus peralihan modal dari emerging markets ke benua biru kali ini merupakan yang paling cepat sejak akhir era 1990-an.

Sepanjang tahun lalu saja, pembelian saham Eropa oleh investor Amerika melonjak ke level tertingginya sejak Oktober 1996 (disesuaikan dengan peningkatan skala saham di wilayah tersebut). Menurut Financial Times, trend pembelian aset Eropa berlangsung sampai sekarang dan kemungkinan tetap demikian, selama skenario pertumbuhan ekonomi terjaga.

Terlepas dari adanya kekhawatiran soal perekonomian nasional, arus modal yang masuk ke Spanyol dan Italia terpantau cukup besar. Pasar saham kedua negara ini tidak kalah menarik atensi pelaku pasar ketimbang bursa negara lain yang kondisi ekonominya lebih mapan. Alhasil, di tengah kenaikan indeks Amerika S&P 500 sebanyak 23% sepanjang tahun lalu, indeks utama Eropa FTSE Eurofirst juga mampu menuai penguatan sebanyak 12%.

Sejak awal 2014, jumlah dana masuk dari pemodal Amerika ke pasar saham Eropa barat sudah mencapai $4.67 miliar (per Selasa 28/01). Dana sebanyak itu nyaris separuh total dana yang keluar dari aset-aset negara berkembang yang jumlahnya sekitar $10 miliar. Pembelian bersih pemodal Amerika pada saham Eropa juga mencapai 0.75% dari total kapitalisasi pasar saham benua biru (data November 2013).

Kecemasan di Negara Berkembang

Selain terseret oleh pelemahan bursa saham Amerika Serikat, pelemahan harga di pasar modal negara berkembang lebih banyak dipengaruhi oleh aksi jual pemodal, yang khawatir dengan prospek investasinya. Indeks emerging markets, MSCI EM, sudah terkoreksi sebanyak 7.1% sepanjang tahun ini. Pelaku pasar menilai kondisi yang sedang melanda negara berkembang saat ini tidak akan bertambah baik namun justru berangsur memburuk. Pertimbangan utamanya tak lain adalah wacana penarikan stimulus moneter oleh Bank Sentral Amerika Serikat dalam dua tahun ke depan.

Sejak krisis finansial melanda Amerika Serikat sekitar 6 tahun lalu, aset-aset negara berkembang memang lebih disukai oleh investor. Pelonggaran moneter yang dilakukan Federal Reserve, yakni melalui pengucuran stimulus dan penurunan suku bunga ke level ekstrim, membuat produk-produk keuangan asal negeri adidaya tidak memberikan return yang bagus. Aksi beli aset-aset negara berkembang terus berlangsung setidaknya sampai satu tahun silam sehingga nilai tukar sebagian mata uang negara berkembang konsisten menguat. Namun sekarang di tengah fase awal penarikan stimulus Amerika, prospek produk emerging markets sudah tidak menjanjikan lagi. Setidaknya asumsi inilah yang dipakai oleh mayoritas investor.

Beberapa negara mulai mempromosikan berbagai cara untuk melindungi perekonomian domestik dan nilai tukarnya masing-masing. Bank Indonesia mengerek suku bunga ke level 7.50% hanya dalam beberapa kali pertemuan. Reserve Bank of India juga menaikkan suku bunga dari 7.75% menjadi 8.00% karena kurs mata uangnya terus merosot. RBI dalam pernyataannya menyebut kenaikan suku bunga akan membantu pencapaian target inflasi konsumen meskipun tidak ada yang bisa membantah kalau nantinya penurunan kinerja pasar modal dan ekspektasi pengetatan di pasar kredit justru berbalik rawan menggerogoti pertumbuhan ekonomi sekaligus memperlemah nilai tukar Rupee. Di Turki, bank sentral bahkan menggandakan suku bunga acuan nyaris dua kali lipat yaitu dari level 7.75% menjadi 12%. Bank-bank sentral seakan tidak malu-malu lagi dalam mengambil kebijakan demi memperkuat benteng moneternya.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar