Jumat, 28 Juli 2017

world-economy  World Economy

Investor Yakin Popularitas Jokowi Terjamin Meski BBM Naik

Rabu, 19 November 2014 10:59 WIB
Dibaca 796

Monexnews - Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, akhirnya mengumumkan kebijakan tidak populer berupa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kemarin lusa. Sebagian warga masyarakat menilai pemerintah tidak berpihak kepada rakyat, namun tidak sedikit pula yang memaklumi langkah tersebut. 

Bagi investor, kenaikan harga BBM merupakan skenario yang tidak bisa dihindari karena berkenaan dengan postur neraca transaksi berjalan. Cepat atau lambat kebijakan ini harus diambil untuk menekan defisit neraca yang sudah kadung membengkak. Popularitas Jokowi memang langsung merosot seketika namun pelaku pasar meyakini bahwa hal itu tidak akan berlangsung lama. Menurut lembaga keuangan Eurasia Group, popularitas sang presiden tidak akan turun untuk jangka panjang hanya karena pemangkasan subsidi. Walaupun kenaikannya mencapai lebih dari 30%, pengurangan subsidi BBM dapat menghemat uang antara $8 miliar dan $10 miliar yang bisa dipergunakan untuk membangun infrastruktur dan program sosial. "Presiden akan mampu menjawab kritikan yang datang dan meraih dukungan publik asalkan pemerintah bisa mengkomunikasikannya dengan masyarakat," saran Analis Christian Lewis dari Eurasia.

Semalam Bank Indonesia (BI) dalam rapat istimewanya juga memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin ke level 7,75%. Kebijakan bank sentral itu diambil untuk membendung tekanan inflasi pasca kenaikan harga BBM subsidi. "Kenaikan suku bunga diperlukan untuk menjaga ekspektasi inflasi di tengah pengaruh kenaikan bahan bakar minyak subsidi," kata Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, di hadapan awak media. Kebijakan Presiden Joko Widodo untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis premium, yakni sebesar Rp 2.000 per liter dari Rp6.500 menjadi Rp8.500, dan jenis solar dengan kenaikan sebesar Rp2.000 per liter dari Rp4.500 menjadi Rp6.500, rawan menimbulkan gejolak apabila tidak direspon dengan kebijakan moneter .

BI memperkirakan kenaikan harga BBM subsidi akan membuat upaya pencapaian inflasi 4,5% (2014) dan 4,5% (2015) jadi meleset. Agar target inflasi tetap terjaga, bank sentral terpaksa menaikkan BI rate. Selain menaikkan suku bunga, BI menaikkan suku bunga Lending Facility sebesar 50 basis poin menjadi 8%. Sedangkan untuk suku bunga Deposit Facility tetap di level 5,75%.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar