Selasa, 26 September 2017

world-economy  World Economy

Jaksa AS: Alstom Pernah Suap Anggota DPR dan Bos PLN

Selasa, 23 Desember 2014 10:55 WIB
Dibaca 836

Monexnews - Pemerintah Amerika Serikat (AS) baru saja menjatuhkan denda terbesar dalam sejarah kepada perusahaan asing yang berbisnis di dalam negeri. Perusahaan yang harus merogoh dalam-dalam koceknya untuk membayar denda adalah Alstom.

Perusahaan industri Alstom mengakui kesalahannya di hadapan Departemen Kehakiman AS dan sepakat membayar denda $772 juta atau setara Rp9,6 triliun. Konglomerasi asal Prancis itu terbukti melakukan aksi suap-menyuap untuk memenangkan tender proyek di berbagai negara seperti Arab Saudi, Mesir dan Bahama. Uniknya, Indonesia juga masuk ke dalam daftar proyek yang dimenangkan oleh Alstom dengan cara curang tersebut. Menurut Wakil Jaksa Agung AS, James Cole, jumlah denda yang ditimpakan kepada Alstom akan menjadi peringatan bagi perusahaan-perusahaan lain.

Jaksa penuntut umum menuduh Alstom dan anak-anak perusahaannya terlibat dalam pemalsuan laporan keuangan dan lalai dalam melakukan pengawasan internal. Beberapa oknum perusahaan terbukti melakukan suap senilai lebih dari $75 juta untuk memenangkan tender proyek total sekitar $4 miliar di seluruh dunia. Alstom sendiri diduga menerima keuntungan $300 juta dari aksi ilegal tersebut.

Alstom berdalih bahwa mereka telah salah memilih konsultan bisnis bisnis. Namun jaksa penuntut membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa pihak konsultan hanyalah kaki tangan aksi suap kepada orang-orang di pemerintahan. "Mereka memberikan kode nama untuk 'konsultan-konsultan' itu seperti Mr. Paris, London, Quiet Man dan Old Friend," kata pihak penuntut. Alstom seakan ingin cuci tangan dengan memakai pihak ke-tiga dalam proses suap-menyuap tender.

"Memang ada beberapa masalah internal, dan kami benar-benar menyesalinya," ujar CEO Alstom, Patrick Kron. Ia memastikan pihaknya akan berusaha menjalankan bisnis tanpa melanggar hukum dan konsisten dengan standar etika.

Dalam salah satu pembacaan dokumen gugatan, pihak jaksa penuntut menyebut Alstom pernah menyuap anggota DPR Indonesia dan bos PLN. "Tujuannya adalah untuk memenangkan tender proyek listrik senilai $375 juta," kata jaksa. Adapun undang-undang yang melandasi sanksi untuk Alstom adalah Foreign Corrupt Practices Act.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar