Selasa, 17 Januari 2017

world-economy World Economy

Jelang MEA, Indonesia Siapkan Sektor Industri Unggulan

Senin, 5 Mei 2014 13:08 WIB
Dibaca 629

Monexnews - Menjelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun 2015, penguatan kerja sama di bidang ekonomi dan keuangan masih terus dilakukan. Pada rangkaian acara ASEAN Finance Ministers’ Meeting (AFMM) ke-18 di Myanmar, sejumlah keputusan baru terkait integrasi pada kedua sektor itu disepakati. Pertama, dalam rangka pengembangan pasar modal ASEAN, akan diformulasikan sebuah strategi jangka menengah yang difokuskan pada upaya memperkuat market linkages, market access, dan market liquidity. Selain itu, akan dilakukan harmonisasi atas inisiatif-inisiatif yang ada di lingkungan pasar modal dengan memerhatikan perkembangan dan karateristik masing-masing negara anggota ASEAN. “Ini untuk harmonisasi dan penyesuaian kebijakan yang lebih kuat antarnegara anggota ASEAN,” jelas Parjiyono, Kepala Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan.

Kesepakatan berikutnya adalah terkait liberalisasi capital account. Para Menteri Keuangan ASEAN sependapat bahwa liberalisasi capital account memiliki peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan mendukung integrasi ekonomi. Liberalisasi akan dilakukan dengan memerhatikan tingkat kesiapan dan karakteristik masing-masing negara anggota ASEAN.

Untuk kerja sama lintas sektor yang mulai berlaku tahun depan, peningkatan daya saing, baik Sumber Daya Manusia (SDM) maupun produk (barang dan jasa) tak bisa lagi ditunda. Peningkatan daya saing merupakan wujud kesiapan yang menjadi kunci utama dalam menghadapi pasar bebas regional yang telah disepakati sejak tahun 2007 itu. Apalagi sesuai dengan kesepakatan, implementasi cetak biru MEA sudah harus diselesaikan negara-negara ASEAN sebelum kerja sama berlaku.

Sebagai langkah nyata persiapan menghadapi MEA, pemerintah telah menetapkan sembilan sektor industri unggulan untuk mengisi pasar ASEAN, antara lain industri olahan berbasis agro, tekstil, alas kaki, industri mesin dan peralatannya, serta industri logam dasar, besi, dan baja. Kebijakan penguatan industri juga dilakukan untuk mengamankan pasar dalam negeri. Tujuh industri diprioritaskan untuk dikembangkan, antara lain industri otomotif, elektronik, dan semen.

Namun demikian, penguatan industri saja tak cukup. Kebijakan lintas sektoral juga perlu diperhatikan. Sosialisasi MEA kepada pemangku kepentingan di sektor industri, penyusunan standar kompetensi kerja nasional dan sertifikasi profesi pada berbagai sektor jasa, serta penguatan UKM dan pengembangan wirausaha baru di industri pengolahan tak boleh luput dari prioritas. “Tidak semua negara membuat produk yang sama dan tidak semua negara makan beras yang sama. Artinya bagaimana supply chain itu bisa berjalan antarnegara ASEAN,” ungkap Parjiyono. (sul)


Sumber: rilis berita Kementerian Keuangan Republik Indonesia

www.kemenkeu.go.id

-disadur tanpa penyuntingan

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar