Kamis, 23 Maret 2017

world-economy  World Economy

Jelang Suksesi Bernanke, Janet Yellen Panen Dukungan

Rabu, 19 Juni 2013 11:10 WIB
Dibaca 437

Monexnews - Jabatan kepala Bank Sentral Amerika Serikat mungkin adalah profesi dan posisi paling penting di seluruh dunia. Setiap kebijakan yang diambil oleh Federal Reserve dipastikan berdampak luas tidak hanya bagi pelaku ekonomi di negeri Paman Sam namun juga untuk masyarakat lintas benua. Begitu strategisnya jabatan ini, sampai-sampai muncul anekdot "ketika presiden The Fed terkena flu, maka seluruh dunia ikut tertular".

Bagi pelaku pasar, Ben S. Bernanke adalah sosok yang komentar dan kebijakannya selalu ditunggu. Perannya sebagai pucuk pimpinan tertinggi bank sentral negeri adidaya membuat apapun yang Bernanke lakukan patut disoroti. Walaupun masa jabatannya baru berakhir awal tahun depan, spekulasi soal suksesor 'the Helicopter Ben' mulai mengemuka. Apabila masa kerja Bernanke tidak diperpanjang, salah satu nama yang masuk dalam kontestasi kepala bank sentral adalah Janet Yellen.

Dukungan bagi Janet Yellen kembali datang pekan ini dari pakar moneter dan mantan kolega sesama anggota dewan bank sentral. Mantan Gubernur the Fed, Robert Heller, kepada CNBC menyebut Yellen sebagai sosok yang paling pantas menggantikan Bernanke Januari nanti. Dalam sebuah program televisi, Presiden Barack Obama sudah mengindikasikan kepergian Bernanke dari posnya mulai awal tahun depan. "Yellen memiliki resume terbaik, bukan yang lain," tegas Herner dalam program Squawk Box. Wanita berusia 66 tahun ini dianggap layak menjadi gubernur karena telah lama mengabdikan diri di bank sentral dan kehadirannya bisa membuka keterwakilan perempuan di lembaga pemerintahan. Figur lain yang kerap diapungkan oleh media untuk menjadi rival Yellen antara lain ekonom Harvard, Lawrence Summers, eks-menkeu Timothy Geithner, CEO TIAA-CREF Roger Ferguson dan mantan wakil kepala the Fed Donald Kohn.

Kolom berita di Washington Post dan The Economist sejak beberapa bulan lalu mencuatkankan nama Janet Yellen sebagai kandidat serius menuju kursi The Fed-1. Anggota dewan kebijakan bank sentral ini dipandang sebagai sosok ideal, dengan visi dan misi yang nyaris serupa dengan seniornya itu. Kalaupun ada hal yang bisa mengganjal lajunya maka bisa jadi soal gender. Ya, dalam sejarah the Fed yang sudah berkibar 100 tahun, tidak pernah sekalipun figur wanita menjabat sebagai pimpinan tertinggi. Namun di sisi lain kekurangan ini justru bisa memperbesar peluang keterpilihan apabila Obama benar-benar ingin mengedepankan keterwakilan kaum hawa.

Dari 12 anggota komite pengambil keputusan the Fed, 4 di antaranya adalah seorang wanita. Mereka adalah perwakilan dari sektor profesi yang berbeda dalam sistem ekonomi Amerika. Menurut American Economic Association, sepertiga warga Amerika yang mengantungi gelar Ph.D di bidang ekonomi adalah kaum hawa. Namun jarang sekali dari mereka yang dipercaya mengisi kursi-kursi strategis, baik di pemerintahan maupun korporasi.

Ketika ditanya soal minimnya kesempatan bagi wanita dalam jenjang institusi, Yellen pada bulan April lalu mengatakan bahwa fenomena itu bisa saja segera berakhir. "Peluang (bagi wanita) terus bertambah dan mungkin sekarang waktunya kami membuat perbedaan," ujar Yellen dalam sebuah wawancara. Pernyataan wakil Bernanke di bank sentral ini bisa menjadi sinyal kesiapannya untuk maju dalam kontestasi menuju posisi kepala the Fed. Jika memang nantinya benar terpilih, maka ia akan menjadi wanita ke-dua di G-8 yang mendapat kehormatan memimpin komando moneter setelah Elvira Nabiullina dari Rusia.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar