Senin, 27 Maret 2017

world-economy  World Economy

Jeratan Defisit Pusingkan Pemerintah Jepang

Kamis, 24 Juli 2014 10:59 WIB
Dibaca 519

Monexnews -  Jepang kembali mengalami defisit di sektor perdagangannya pada bulan Juni lalu. Menurut data yang dirilis hari ini (24/07) defisit bulanan mencapai rekor tertinggi dalam dua tahun terakhir seiring penurunan ekspor dan lonjakan impor barang.

Berlanjutnya pelemahan ekspor disikapi serius oleh pemerintah karena menghambat pencapaian target pemerintah. Defisit hanya akan menghalangi langkah perdana menteri Shinzo Abe untuk mengakhir fase deflasi yang sudah berlangsung selama satu setengah dasawarsa. Pemerintah dan bank sentral memang melakukan segala upaya untuk mempercepat laju sektor perdagangan, salah satunya adalah dengan memperlemah nilai tukar Yen supaya harga produk domestik lebih bersaing di pasar luar negeri. Sayangnya sampai sekarang strategi ini juga hanya berdampak minimal terhadap performa ekspor. Pihak otoritas sendiri sudah menggelar beberapa pertemuan membahas soal kemandulan sektor perdagangan namun belum mengumumkan formula kebijakan baru. 

Bahkan sebagai salah satu produsen otomotif terbesar sejagad, Jepang gagal menembus pasar luar negeri. Ekspor kendaraan ke Amerika Serikat turun 6.8% di bulan Mei dibandingkan periode yang sama tahun 2013. Bahkan secara bulanan, ekspor mobil anjlok sampai 18% meskipun volume permintaan di Negeri Paman Sam sedang bagus-bagusnya. Berkaca pada fakta tersebut, beberapa perusahaan sudah mulai serius menggarap pasar domestik ketimbang harus jor-joran mempromosikan barangnya di luar negeri.

Defisit perdagangan Jepang mencapai 822.2 miliar Yen atau $8.1 Miliar di bulan Juni. Jumlah tersebut jauh di atas estimasi defisit hasil survei Wall Street Journal dan Nikkei yang muncul di angka 684.7 miliar Yen. Gap defisit tercipta karena volume ekspor jatuh 2.0% dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Sementara jumlah impor justru naik 8.4%, sekaligus memastikan Jepang mengalami defisit terpanjang dalam sejarah dengan total periode mencapai 24 bulan.

Pekan lalu, Asian Development Bank memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju dari 1.5% menjadi 1.9% untuk tahun 2014 akibat lambatnya arus pemulihan di Amerika dan penurunan estimasi permintaan impor dari Asia Tenggara dari 4.7% menjadi 5.0%. Kisruh politik di Thailand dan memanasnya tensi politik antara Vietnam dan China berpengaruh besar terhadap prospek permintaan dari benua kuning. Jepang akan menjadi salah satu korban dinamika politik tersebut karena posisinya sebagai nehara eksportir utama dunia. Menurut survei terhadap 40 ekonom oleh Japan Center for Economic Research, perlambatan ekonomi di China dan Amerika adalah risiko terbesar bagi Jepang, selain potensi penurunan suplai energi akibat perang di Timur Tengah. Untuk menyiasatinya, perdana menteri Abe dikabarkan segera mengaktifkan lagi 48 reaktor nuklir mulai musim gugur nanti. Namun secara keseluruhan, pihak Tokyo belum mengeluarkan langkah baru untuk membendung defisit yang semakin membengkak.


(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar