Senin, 11 Desember 2017

world-economy  World Economy

Jerman: Tujuan Eropa Bukan Menghancurkan Rusia

Senin, 5 Januari 2015 16:12 WIB
Dibaca 1143

Monexnews - Kondisi ekonomi Rusia semakin memprihatinkan dari hari ke hari. Gara-gara di-embargo oleh Amerika Serikat dan sekutunya, negara ini terpaksa menghadapi ancaman resesi dan kebangkrutan di sektor swasta. 

Sebagai kepanjangan tangan Amerika Serikat di Eropa, Jerman membantah bahwa sanksi ekonomi blok barat ditujukan untuk membuat Rusia menderita. Wakil Kanselir dan Menteri Ekonomi Jerman, Sigmar Gabriel menganggap Rusia sedang mengalami instabilitas akibat sanksi dari mitra dagang utamanya. Namun dalam wawancara dengan media lokal, ia membantah kalau tujuan embargo adalah untuk menghancurkan negara itu.

"Tujuan (embargo) bukanlah untuk membuat perekonomian dan politik Rusia chaos," ujar Gabriel. Pemimpin Partai Sosial Demokratik ini mengklaim banyak pihak ingin memanfaatkan kekeruhan di Eropa, termasuk di tengah krisis Rusia. Ia mengaku bahwa ada orang-orang yang ingin Rusia jatuh karena itu dianggap bisa menciptakan stabilitas di kawasan. "Namun sekali lagi, itu bukan tujuan Jerman dan negara-negara Eropa," kilahnya. Gabriel juga mengungkapkan perlunya penyelesaian krisis di Ukraina, tapi bukan otomatis melemahkan Rusia.

Seperti diketahui, Kombinasi antara embargo blok barat dan penurunan harga minyak dunia membuat ekonomi Rusia melemah dan perusahaan-perusahaan terancam gulung tikar. Pelemahan kurs Ruble juga menjadi biang keladi kelesuan bisnis di tahun 2015, terutama bagi perusahaan-perusahaan yang berbasis ekspor. Untuk menolong pengusaha dari beban hutang luar negerinya, Bank of Russia menawarkan bantuan finansial berupa pinjaman lunak. Penghutang Rusia bisa meminjam uang Dollar dan Euro kepada bank sentral untuk melunasi hutangnya. Sebagai timbal balik, mereka harus menyerahkan aset hutang luar negerinya untuk dijadikan agunan.

Hal ini semakin memperburuk citra Rusia di mata lembaga pemeringkat. Tanpa kebijakan itupun sesungguhnya reputasi Moskow sudah cukup jelek, khususnya di mata agensi Standard & Poor's, yang sudah menyematkan outlook kredit 'negatif' kepada negara Rusia. Apabila tidak ada perubahan berarti, rating negara itu kemungkinan besar jatuh ke status 'junk' atau sampah di bulan Januari 2015. "Rusia telah kehilangan ruang gerak di sektor moneternya," ulas S&P dalam laporannya.

Di sisi lain, pemerintah tidak bisa menolong pelaku usaha tersebut via kebijakan moneter dengan menjual Dollar. Pasalnya cadangan devisa dan emas negara itu sudah berkurang dari $510 miliar (awal 2014) menjadi $414 miliar. Devisa berkurang karena bank sentral menjualnya ke pasar sejak bulan Juni lalu demi membendung pelemahan Ruble.

Sepanjang tahun lalu Bank of Russia sudah membobol kas sampai $110 miliar atau sekitar $1.370 triliun untuk mengawal nilai tukar Ruble. Jumlah itu setara dengan seperempat total devisanya yang tersisa saat ini. Sampai dengan 19 Desember lalu, simpanan devisa Rusia dalam bentuk emas dan aset luar negeri lainnya sudah berkurang menjadi $398,9 miliar.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar