Rabu, 29 Maret 2017

world-economy  World Economy

Jika Berganti Panglima, Kebijakan PBOC Diprediksi Tidak Berubah Drastis

Jumat, 26 September 2014 11:48 WIB
Dibaca 636

Monexnews - Kabar rencana penggantian Gubernur People's Bank of China (PBOC) terus menjadi pembahasan berbagai media dan analis keuangan dunia. Walaupun belum bisa dikonfirmasi, namun pelaku pasar mulai memasukkan rumor ini ke dalam pertimbangan investasinya.

Ada harapan penunjukan gubernur bank sentral yang baru akan membuat strategi moneter PBOC berbalik agresif. Namun demikian, beberapa pihak pesimis kalau pola kebijakan bank sentral akan berubah drastis apabila posisi kepemimpinan di-reshuffle. "Kabar penggantian Zhou Xiaochuang bertepatan dengan momen pertemuan nasional China bulan depan," ulas tim riset lembaga keuangan Daiwa. Kalaupun nantinya benar diganti, kemungkinan besar pengumumannya dilakukan bersamaan dengan momen tersebut.

Di sisi lain, Daiwa tidak melihat akan terjadi perubahan kebijakan yang drastis apabila kepemimpinan PBOC dirombak. Pasalnya, pemberhentian Xiaochuang memang sesuai dengan prosedur, karena usianya memang sudah masuk masa pensiun. Siapapun yang ditunjuk menjadi suksesornya tidak akan memiliki ruang yang besar untuk melakukan pelonggaran moneter secara ekstrim.

Seprti diberitakan kemarin, Presiden China, Xi Jinping dilaporka berencana mengganti Gubernur bank sentralnya saat ini, Zhou Xiaochuan, dengan figur baru. Wacana reshuffle di tubuh People's Bank of China (PBOC) mencuat di tengah perbedaan antar lembaga pendapat soal strategi percepatan ekonomi nasional.

Adapun kandidat terkuat yang akan menggantikan posisi Xiaochuan di tampuk pimpinan tertinggi bank sentral adalah Guo Shuqing. Ia merupakan mantan bankir dan pengawas pasar modal yang sekarang menjabat sebagai Gubernur provinsi Shandong Timur. Pun demikian, kabar ini belum bisa dikonfirmasi kepastiannya dan masih sebatas pemberitaan di media-media.

Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal, Gubernur Xiaochuang menegaskan dirinya tidak akan mundur meski kerap berbeda pendapat dengan pemerintah. Pria yang sudah menjadi pimpinan bank sentral sejak tahun 2002 ini mengklaim kebijakannya selalu sejalan dengan target pertumbuhan Tiongkok. Pelaku pasar berspekulasi lambatnya arus pemulihan di negara terbesar Asia menjadi biang wacana pemecatan Xiaochuang karena pemerintah ingin bank sentral lebih berperan agresif dalam pelonggaran moneter dibandingkan apa yang sudah mereka lakukan sekarang. Namun sampai sekarang belum ada pihak yang berani mengkonfirmasi kabar ini, baik dari pihak PBOC maupun menteri kabinet.

Terlepas dari berbagai isu yang beredar, bank sentral diyakini akan tetap merilis stimulus baru karena beberapa indikator ekonomi tidak kunjung membaik. Angka industrial production tumbuh secara pelan dalam rasio 6,9% di bulan Agustus dibandingkan satu tahun lalu. Sementara pertumbuhan investasi tetap anjlok 13,8% (tahunan) dibandingkan catatan bulan Juli, 15,7%. Harga-harga konsumen juga menurun jadi hanya 2% di bulan Agustus atau di bawah target resmi pemerintah, 3,5%.

Rangkaian data negatif itu membuka lagi kekhawatiran soal 'hard landing' di China. Beberapa analis keuangan memprediksi pemerintah akan gagal memenuhi target pertumbuhan 7,5% yang ditetapkan Maret lalu. Beberapa bank bahkan sudah memangkas target pertumbuhan Tiongkok untuk tahun 2014, termasuk Goldman Sachs, yang menurunkan proyeksinya dari 7,7% pada akhir tahun lalu menjadi 7,3%.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar