Kamis, 19 Januari 2017

world-economy World Economy

Kenaikan BBM, Pekerjaan Rumah Gubernur Baru BI

Senin, 27 Mei 2013 13:50 WIB
Dibaca 455

Monexnews - Pekan lalu, Agus Martowardojo resmi dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk periode jabatan lima tahun ke depan. Dalam taklimatnya, ia menyebut laju inflasi sebagai fokus utama saat ini. Stabilitas harga dianggap sebagai modal utama untuk menciptakan ekonomi yang kuat sekaligus tahan banting dari ancaman gejolak internasional. Agus Martowardojo juga berkomitmen untuk membuka diri terhadap kenaikan suku bunga acuan, menjaga nilai tukar Rupiah dan melakukan apapun demi mencapai tingkat inflasi ideal.

Gubenur BI boleh saja memancang target tinggi sesuai amanat undang-undang, namun ia harus bergerilya untuk selamat dari tekanan politik dan konflik sosial pasca kenaikan BBM kelak. Pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi bulan depan untuk menggerus beban anggaran nasional. Agus dituntut untuk mampu menyesuaikan kebijakan bank sentral dengan dinamika fiskal yang terjadi akibat kebijakan pemerintah tersebut, khususnya terkait ancaman inflasi. Penolakan dari berbagai unsur masyarakat rawan terjadi mengingat separuh dari 245 juta penduduk Indonesia hidup dengan pendapatan kurang dari $2 per hari atau kurang dari Rp20 ribu.

Mantan gubernur BI, Darmin Nasution, pekan lalu memperkirakan inflasi bisa naik sampai 7.8% di akhir tahun apabila pemerintah jadi menaikkan harga bahan bakar. Angka tersebut jauh di atas kisaran target bank sentral antara 3.5% dan 5.5% untuk tahun 2013. Kini pemerintah dan parlemen sedang berdiskusi untuk mencari cara untuk membentengi gejolak sosial dan politik, dan solusi akhirnya kemungkinan didapat pada bulan Juni-Juli

Perekonomian Indonesia telah tumbuh lebih dari 6% dalam lima tahun belakangan, kecuali pada tahun 2009 di mana pertumbuhan hanya mencapai 4.5% akibat krisis finansial. Adapun inflasi bulan Maret sebesar 5.90% atau nyaris menyentuh posisi tertingginya dalam dua tahun terakhir sebelum surut lagi ke 5.57% di bulan April. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di rekor rendah 5.75% sejak Februari 2012 guna membantu perekonomian nasional. Kritikus menyebut pelonggaran kebijakan moneter itu rawan memicu overheating di kemudian hari.

Sementara itu kurs Rupiah sudah turun sebanyak 1% tahun ini dan pada Jumat lalu diperdagangkan pada level 9,775 per Dollar. Pelemahan lebih lanjut dapat membuat investor tergerak untuk menarik dananya dari sektor keuangan, padahal di sisi lain pasar finansial merupakan sumber pendanaan untuk mengurangi current-account deficit.

Adapun pekerjaan rumah gubernur BI yang baru nantinya adalah bagaimana untuk bisa mentransfer kewenangan terhadap pengawasan bank kepada lembaga yang baru dibentuk tahun depan. Otoritas Jasa Keuangan akan mengambil alih tugas supervisi perbankan di bulan Januari 2014 sehingga bank sentral bisa terfokus pada kebijakan moneter. Agus dan jajaran harus mampu mendelegasikan tanggung jawab lamanya secara sukses agar OJK bisa langsung bekerja sesuai tujuan pendiriannya.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar