Senin, 24 Juli 2017

world-economy  World Economy

Kerek Suku Bunga, Bank Sentral Afsel Tiru Langkah Turki dan India

Kamis, 30 Januari 2014 10:45 WIB
Dibaca 443

Monexnews - Trend penurunan nilai tukar negara-negara berkembang (emerging countries) dua pekan terakhir mendorong otoritas untuk bergerak agresif. Setelah Turki dan India, Bank Sentral Afrika Selatan ikut menaikkan suku bunga acuannya guna melindngi stabilitas kurs dan nilai aset.

Pada hari Rabu kemarin (29/01), di luar dugaan Bank Sentral Afrika Selatan mengerek suku bunga. Langkah otoritas diambil hanya dalam hitungan jam setelah pihak Turki dan India melakukan hal serupa. Ketiga negara ini memang sedang terancam oleh aksi jual mata uang dan produk-produk keuangan berbasis mata uang masing-masing sehingga otoritasnya merasa perlu mengambil langkah antisipatif.

"Meskipun perekonomian di Amerika Serikat dan Inggris pulih, bukan berarti ancaman krisis finansial benar-benar pudar," demikian pernyataan resmi Bank Sentral Afrika Selatan. Menurut dewan gubernur, potensi krisis sekarang justru lebih besar bagi negara-negara berkembang. Puncak aksi kebijakan bank sentral negara maju memang terjadi pada hari Rabu, di mana sebelum putusan diumumkan, kurs Lira Turki dan Rand Afrika Selatan melemah 3% terhadap US Dollar. Hal yang sama juga terlihat pada pergerakan nilai tukar Rupee India.

Bank sentral Afrika Selatan menaikkan suku bunga dari 5.0% menjadi 5.5% guna membendung depresiasi kurs. Sebelumnya, Reserve Bank of India juga menaikkan suku bunga dari 7.75% menjadi 8.00% dan otoritas Turki bahkan bertindak lebih agresif, yaitu dengan menggandakan suku bunga acuan hingga nyaris dua kali lipat dari level 7.75% menjadi 12%.

Sejak krisis finansial melanda Amerika Serikat sekitar 6 tahun lalu, aset-aset negara berkembang memang lebih disukai oleh investor. Pelonggaran moneter yang dilakukan Federal Reserve, yakni melalui pengucuran stimulus dan penurunan suku bunga ke level ekstrim, membuat produk-produk keuangan asal negeri adidaya tidak memberikan return yang bagus. Aksi beli aset-aset negara berkembang terus berlangsung setidaknya sampai satu tahun silam sehingga nilai tukar sebagian mata uang negara berkembang konsisten menguat. Namun sekarang di tengah fase awal penarikan stimulus Amerika, prospek produk emerging markets sudah tidak menjanjikan lagi. Setidaknya asumsi inilah yang dipakai oleh mayoritas investor.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar