Rabu, 29 Maret 2017

world-economy  World Economy

Kesuksesan Lelang SUN Tunjang Pelaksanaan APBN Triwulan I-2015

Rabu, 14 Januari 2015 10:18 WIB
Dibaca 394

Monexnews - Pemerintah telah melakukan transaksi penjualan Surat Utang Negara (SUN) dalam valuta asing berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (9/1) pekan lalu. Dari transaksi tersebut, Pemerintah Indonesia berhasil menghimpun dana sejumlah 4 miliar dolar AS.

“Kemarin itu kita sudah issue global bond. Jumlahnya pun kita upsize, jadi 4 miliar USD. Jadi istilahnya kita menangkap momentum, pas pasarnya membaik, pas kita belum ada isu kenaikan bunga di Amerika, kita masuk ke pasar,” terang Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro di Jakarta, Jumat (9/1).

Ada dua seri SUN yang ditawarkan, yakni seri RI0125 dan RI0145. Jumlah nominal yang diterbitkan untuk kedua seri SUN tersebut masing-masing sebesar 2 miliar dolar AS. SUN seri RI0125 sendiri memiliki tenor 10 tahun, dengan imbal hasil yang ditawarkan (yield) sebesar 4,2 persen. Sementara, seri RI0145 memiliki tenor 30 tahun dengan yield 5,2 persen.

“Masing-masing 2 miliar USD. Yield-nya kalau yang 10 tahun 4,2 persen, yang 30 tahun 5,2 persen,” katanya.

Lebih lanjut Menkeu mengungkapkan, SUN berdenominasi dolar AS ini masih sangat diminati investor. Hal ini terlihat dari total penawaran yang masuk, yang mencapai Rp19,3 miliar dolar AS. Angka ini merupakan penawaran terbesar yang pernah dicapai pemerintah untuk transaksi penjualan SUN dalam valuta asing berdenominasi dolar AS.

“Penawaran yang masuk 19,3 miliar USD, jadi over subscribed sebesar hampir 5 kali, (tepatnya) 4,8 kali,” terangnya.

Menurut Menkeu, dengan adanya transaksi ini dan transaksi SUN berdenominasi rupiah beberapa waktu lalu, pemerintah telah mengamankan kebutuhan pembiayaan anggaran untuk triwulan pertama tahun ini. Dengan demikian, kelangsungan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada awal tahun ini dapat tetap terjamin, mengingat penerimaan negara, khususnya dari sektor perpajakan belum dapat terhimpun secara maksimal pada awal tahun anggaran.

“Paling enggak di triwulan pertama sudah ada uang masuk, karena kalau (penerimaan) pajak kan butuh waktu, pajak itu paling banyak Bulan Maret. Jadi, kita menjaga dulu APBN di awal, sekaligus kita menjaga agar financing kita tidak terpengaruh oleh apa yang terjadi di global,” ungkapnya.(nv)

 

Sumber: rilis berita Kementerian Keuangan Republik Indonesia

www.kemenkeu.go.id

*disadur tanpa perubahan

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar