Jumat, 22 September 2017

world-economy  World Economy

Ketimbang Cabut Subsidi, Arab Saudi Pilih Kampanye Hemat Energi

Rabu, 6 Mei 2015 11:27 WIB
Dibaca 2928

Monexnews - Arab Saudi terkenal selalu memanjakan warganya dengan harga bahan bakar yang terjangkau. Sebagai produsen minyak mentah terbesar dunia, tidak heran jika pemerintahnya tidak kesulitan memberikan subsidi energi secara merata.

Namun sama seperti negara ekonomi maju lainnya, tingkat permintaan minyak mentah domestik Saudi terus meningkat dari tahun ke tahun. Pemerintah dipaksa mengambil strategi baru supaya konsumsi warganya tetap terkendali. Alih-alih memangkas subsidi, otoritas lebih memilih untuk melakukan penghematan bahan bakar dengan cara lain.

Di Arab Saudi, harga solar hanya dipatok 7 sen Dollar per liter atau sekitar 26 sen per galon. Harga yang murah tersebut ikut berperan dalam pemborosan konsumsi warganya sejak tahun 1980 silam.

Menurut laporan U.S. Energy Information Administration, Saudi memakai lebih dari seperempat hasil minyaknya untuk keperluan dalam negeri sehingga negara ini menduduki posisi ke-8 dalam daftar konsumen energi terbesar dunia. Bahkan pada tahun lalu, penggunaan minyak mentah untuk pembangkit tenaga mencapai jumlah tertinggi sejak tahun 2009 (data Joint Organizations Data Initiative).

Untuk menekan pemborosan, pemerintah mulai mengkampanyekan pemakaian hemat energi mulai dari pendingin ruangan hingga kendaraan bermotor. Kementerian Perdagangan dan Industri dalam website-nya menyatakan sudah menyita pendingin ruangan di tempat-tempat perbelanjaan karena AC dianggap tidak memenuhi standar hemat energi. Langkah tersebut akan dilakukan lagi tahun ini sebagai cara untuk mendisiplinkan warga dan pelaku usaha.

Tidak hanya itu, Badan Standarisasi Kualitas dan Metrologi Saudi juga berencana meluncurkan kendaraan irit bahan bakar. Semua kendaraan dengan standar konsumsi BBM lama akan ditarik dari pasaran mulai tahun 2016 untuk digantikan dengan kendaraan berdaya mesin kecil dengan konsumsi BBM lebih sedikit. Pemerintah menilai hal itu lebih efektif ketimbang memangkas subsidi energi seperti yang dilakukan oleh negara konsumen lainnya, seperti Indonesia. (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar