Sabtu, 22 Juli 2017

world-economy  World Economy

Korut Aktifkan Lagi Reaktor Nuklir Andalan

Selasa, 2 April 2013 16:02 WIB
Dibaca 553

Monexnews - Korea Utara pada hari Selasa (02/04) mengumumkan rencana pengaktifan kembali reaktor nuklirnya untuk memenuhi kebutuhan material senjata dan sumber daya. Pernyataan Pyongyang kian memperkeruh situasi politik regional, khususnya dengan negara tetangga Korea Selatan. 

Reaktor di wilayah Yongbyon, sekitar 90 kilometer (55 mil) bagian utara Pyongyang, ditutup pada tahun 2007 lalu sesuai dengan perjanjian pelucutan senjata nuklir internasional. Reaktor berkapasitas 5 megawatt tersebut merupakan sumber utama plutonium bagi program persenjataan Korut. Pemerintah kemudian mengumumkan pendirian fasilitas pengayaan nuklir baru pada tahun 2010 untuk memasok bahan baku senjata pemusnah massal.

Dalam pernyataannya melalui kantor berita nasionalnya, Korut menyatakan segera menaktifkan lagi fasilitas nunklir Yongbyon dan tidak berniat untuk menunda-nunda. Namun banyak pengamat meyakini bahwa pemerintah membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sepenuhnya mengoperasikan reaktor. Citra satelit memperlihatkan proses konstruksi sedang berlangsung di tempat itu akan tetapi masih belum jelas sejauh mana kemajuan yang sudah dicapai.

"Dibutuhkan setidaknya satu tahun bagi Korut untuk mengaktifkan lagi reaktor nuklirnya. Butuh waktu lama untuk memperbaiki menara pendingin yang rusak sebelum kembali beroperasi," ujar Lee Ho-ryung, Spesialis Program Nuklir di Korea Institute for National Unification, Seoul. Pihak Pyongyang mengakui fasilitas pengayaan Yongbyon merupakan sumber material nuklir utamanya. Akan tetapi banyak pengamat meyakini bahwa pemerintah memiliki fasilitas nuklir lain yang tidak kalah penting.

Sejak uji coba senjata pertama tahun 2006, Pyongyang berulangkali meminta Amerika Serikat dan negara sekutunya untuk mengakui keberadaan Korut sebagai negara dengan sumber daya nuklir terbesar. Dengan begitu, Korut memiliki posisi tawar yang besar dalam setiap kerjasama internasional. Pengembangan tenaga nuklir Korea memang sudah dimulai sejak tahun 1970-an, akan tetapi prosesnya berjalan lambat di tengah kemiskinan dan sanksi dunia luar. Sejak tahun 1994 sampai 2002, negara ini resmi menghentikan proyek pengembangan nuklir di bawah kesepakatan dengan Amerika Serikat. Kemudian kesepakatan itu pecah di tahun 2002, karena Pyongyang kembali melakukan riset senjata dengan memakai bahan uranium dan bukan menggunakan bahan plutonium, sebagaimana penggunaannya tercantum pada pakta tahun 1994.

Pada November 2010, Korut memamerkan hasil kerjanya kepada ahli sains asal Amerika, Siegfried Hecker. Hecker diajak melakukan tur untuk melihat laboratorium pengolahan uranium hingga ke tahapan pemurnian sehingga dapat dijadikan bahan senjata nuklir. Sejak saat itulah krisis nuklir antara Korut, Korsel dan Amerika semakin meruncing.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar