Minggu, 22 Oktober 2017

world-economy  World Economy

Kunjungi China, Menkeu Jepang akan Pertanyakan Tujuan AIIB

Selasa, 7 April 2015 11:00 WIB
Dibaca 2345

Monexnews - Delegasi Jepang dan China dijadwalkan bertemu pada bulan Juni mendatang di Beijing. Salah satu isu sentral yang akan dibahas adalah tentang berdirinya Bank Investasi Infrastruktur Asia yang dipelopori oleh China.

Rencana pertemuan menteri keuangan dari dua negara berbeda memang bukanlah suatu hal yang aneh. Namun hal ini jadi menarik karena terjadi di saat hubungan China dan Jepang sudah merenggang sekitar dua tahun. Selain konflik perbatasan, konon Jepang juga ingin mempertanyakan alasan China membentuk bank kreditur baru yang dinamai Asian Investment Infrastructure Bank (AIIB) pada 24 Oktober tahun lalu. Menurut menkeu Jepang, Taro Aso, kepada media hari ini, inisiatif Beijing itu membuat khawatir negara-negara lain.

Jepang sendiri sejauh ini tidak mau bergabung dengan AIIB walaupun secara konsep, bank ini dibentuk untuk kepentingan kawasan Asia. Keputusan China membentuk bank baru justru dianggap sebagai delegitimasi terhadap Asian Development Bank (ADB), yang didirikan oleh Jepang sejak 1960-an. Namun demikian, politisi di negeri sakura menyarankan pemerintah Tokyo untuk mempertimbangkan bergabung dengan AIIB karena bisa menguntungkan. Walaupun deadline untuk bergabung sudah lewat pada 31 Maret lalu, China kemungkinan tidak keberatan untuk memasukkan Jepang sebagai salah satu anggota pendiri. Mantan PM Jepang, Yasuo Fukuda, bahkan meminta PM Shinzo Abe untuk berpartisipasi dalam struktur AIIB dan ikut ambil bagian dalam pembuatan aturan main di dalamnya. Namun pemerintah belum mengambil keputusan apapun, dan bisa jadi hasil pertemuan dua menkeu Juni mendatang dapat mengubah pikiran Abe. Kedua negara terakhir kali menggelar pertemuan tingkat menteri pada bulan April 2012, tepat sebelum munculnya isu sengketa perbatasan di Laut China Selatan.

Bank Investasi Infrastruktur Asia adalah bank simpan pinjam yang dibentuk oleh China sebagai sumber pendanaan negara-negara yang membutuhkan modal pembangunan. Keberadaannya dianggap oleh Amerika dan sekutunya sebagai alat untuk memperluas pengaruh Tiongkok. Indonesia sendiri sudah bergabung dengan AIIB sejak pertama kali berdiri meskipun absen saat peluncurannya tahun lalu. Menurut China, negara terakhir yang sudah mengajukan proposal untuk bergabung adalah Austria.

Keputusan China untuk mempelopori pendirian bank simpan pinjam ala World Bank dan Asian Development Bank (ADB) sempat tidak mendapat dukungan dari 3 negara besar di kawasan Asia Pasifik. Amerika Serikat bahkan merasa langkah itu tidak perlu karena lembaga kreditur yang sudah ada sekarang mampu mengakomodasi kepentingan anggotanya. Dengan bermodalkan kas awal $50 miliar, AIIB tetap diluncurkan pada tanggal 24 Oktober 2014 di Beijing.

Pihak Amerika Serikat mengklaim keberadaan AIIB hanya untuk menyaingi Bank Dunia dan ADB, yang selama ini memang dikenal sebagai perpanjangan tangan Washington di negara-negara berkembang. Sejak menjadi negara perekonomian terbesar sejagad, Tiongkok memang giat memperluas pengaruhnya di sektor bisnis maupun politik ke negara-negara mitra dagang, salah satunya adalah dengan mendirikan bank kreditur baru. Sikap Amerika mendapat dukungan dari 3 negara besar di Asia Pasifik. Perwakilan dari Australia, Indonesia dan Korea Selatan tidak hadir dalam peluncuran AIIB sehingga memunculkan spekulasi bahwa inisiatif China tidak mendapat support dari negara tetangga. Tetapi perkiraan itu pupus karena Indonesia akhirnya jadi ikut bergabung. China sendiri menjadi penyandang dana terbesar AIIB dengan kontribusi modal awal mencapai 50%. (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar