Minggu, 22 Oktober 2017

world-economy  World Economy

Menkeu: 3 Tahun Lagi, Pertumbuhan Indonesia Bisa Kembali ke 6%

Selasa, 14 Oktober 2014 10:48 WIB
Dibaca 520

Monexnews - Sebagai motor perdagangan dunia, dinamika ekonomi China sedikit banyak berpengaruh terhadap kondisi di negara lain, termasuk Indonesia. Trend perlambatan bisnis dan industri dan bisnis di Tiongkok mendapat perhatian khusus dari menteri keuangan.

Menurut menteri keuangan Chatib Basri, penurunan ekonomi di China cukup mengkhawatirkan bagi pemerintah Indonesia. Lambatnya arus investasi dan lemahnya aktivitas manufaktur sudah membuat harga komoditas dunia merosot tajam. Padahal dalam satu dasarwarsa terakhir China merupakan pelanggan hasil bumi utama Indonesia.

"Kami tidak bisa lagi mengandalkan sumber daya alam atau upah murah. Sudah waktunya Indonesia fokus pada pengembangan kualitas manusia, perbaikan infrastruktur dan kebijakan pemerintah untuk menggerakkan perekonomian," ujar Chatib Basri kepada CNBC dalam Rapat Tahunan Bank Dunia di Washington.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 5,8% di tahun 2013 lalu, atau rasio terendahnya dalam 4 tahun terakhir. Sementara untuk tahun ini, pertumbuhan GDP diprediksi hanya mencapai 5,2%. Ketika ditanya apakah Indonesia akan mampu kembali ke laju pertumbuhan 6,5%, menkeu menjawab hal itu hanya mungkin terjadi paling cepat di tahun 2017. "Untuk tahun 2014-2015, kami lebih mengutamakan strategi untuk stabilitas. Baru di tahun 2017 nanti, saya optimis perekonomian bisa tumbuh di atas 6%," pungkasnya. Indonesia terakhir kali mencetak pertumbuhan ekonomi 6,5% pada tahun 2011 lalu, sebelum akhirnya menurun jadi 6,2% di tahun 2012.

Untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah perlambatan negara-negara maju seperti China, menkeu mengutarakan beberapa strategi. Salah satu yang paling utama adalah menghapus subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini merongrong pos neraca transaksi berjalan Indonesia. Kemudian uang yang berhasil dihemat dari sektor itu dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur guna menyerap tenaga kerja dan menciptakan pertumbuhan dalam 3 tahun ke depan. Di tahun 2014, subsidi energi Indonesia diprediksi menembus rekor Rp350 triliun atau 21% dari anggaran belanja pemerintah dan 3,4% dari nilai GDP nasional.


(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar