Rabu, 26 Juli 2017

world-economy  World Economy

Menkeu AS: Wall Street Terlalu Santai Merespon Isu Hutang

Rabu, 25 September 2013 9:42 WIB
Dibaca 487

Monexnews - Di tengah kontroversi tentang proposal kenaikan plafon hutang yang diajukan pemerintah, Menteri Keuangan Amerika Serikat menebar ancaman kepada Wall Street. Ia memperingatkan bahwa pasar saham terlalu tenang dalam menyikapi potensi kebangkrutan pemerintah.

Komentar Jack Lew itu dilontarkan dalam forum Bloomberg Markets 50 Summit di New York, hari Selasa (24/09) waktu setempat. Menkeu seakan menginginkan pelaku pasar modal untuk ikut menekan kongres supaya segera menyetujui wacana kenaikan batas hutang negara. "Anda bersikap tenang di sana, padahal dampaknya bisa sangat besar (terhadap pasar)," tegas Lew. Ia juga mengajak investor untuk kembali membuka memori tentang kontroversi yang sama pada tahun 2011 silam. "Apa yang terjadi dua tahun lalu sangatlah buruk dan tidak ada seorangpun yang menginginkannya terulang lagi," tutur Lew.

Pada bulan Agustus 2011, kombinasi antara perdebatan plafon hutang dan ketidakmampuan pemerintah untuk mengatasi beban hutang jangka panjang telah membuat agensi rating Standard & Poor's memangkas peringkat hutang Amerika. Bursa saham merosot pada bulan itu, di mana indeks S&P 500 terkoreksi nyaris 6%.

Lew sepakat dengan niat pejabat kongres yang tidak ingin pos hutang nasional kembali memburuk. Akan tetapi, ia memperingatkan kalau waktu semakin mepet mendekati deadline. "Semua orang harus mengerti kalau kongres hanya memiliki waktu sedikit untuk bernegosiasi," tambahnya. Kementerian keuangan hanya memiliki waktu sampai 30 September untuk bisa mengakses dana darurat yang dipakai untuk membayar beban hutang yang jatuh tempo di pertengahan Oktober. Setelah itu, kementerian hanya akan memegang dana tunai $50 miliar untuk dipakai mendanai operasional pemerintahan.

Lew sepertinya ingin memanfaatkan momen penurunan bursa saham selama empat sesi beruntun untuk menggalang dukungan. Pelaku pasar diminta lebih serius menyikapi isu ini karena efek negatifnya telah membuat indeks S&P 500 dan Dow Jones anjlok 2% dari posisi tertingginya pekan lalu. Respon investor dan ekonom diharapkan bisa memberi tekanan lebih besar kepada kongres untuk segera meneken kenaikan plafon hutang.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar