Minggu, 4 Desember 2016

world-economy World Economy

Meski Embargo Berlaku, Perusahaan Migas Jepang Nyaman Berbisnis di Rusia

Selasa, 28 Oktober 2014 13:13 WIB
Dibaca 1211

Monexnews - Walaupun Rusia sedang dikenai embargo ekonomi oleh blok barat, beberapa perusahaan dari negara sekutu Amerika Serikat masih ada yang menjalankan bisnisnya di sana. Sebagian besar adalah korporasi yang bergerak di industri minyak dan gas.

Perusahaan migas asal Jepang mengaku masih menjalankan operasionalnya seperti biasa di negara Rusia walaupun dibayangi krisis politik luar negeri. Menurut Kepala Japan Petroleum Development Association, perusahaan energi asal negeri samurai tetap membeli liquefied natural gas dari Sakhalin-2 dan melakukan transaksi minyak mentah yang pengirimannya melalui pipa Siberia Timur-Pasifik. Nyaris tidak ada yang berubah meskipun sanksi blok barat kepada Rusia diperberat pada bulan September kemarin. "Pemerintah belum meminta kami untuk keluar (dari Rusia)," ujar badan perminyakan tersebut. Sebagai perbandingan, pada tahun 2010 lalu, perusahaan energi Jepang, Inpex, dipaksa keluar dari proyek minyak Azadegan di Iran karena tekanan Amerika. Namun sampai sekarang pihak Washington belum mengutarakan instruksi serupa kepada pengusaha yang masih menjalankan bisnisnya di Rusia.

Tingginya ketergantungan terhadap impor energi memang membuat posisi ketahanan energi Jepang menjadi kurang aman. Oleh karena itulah pemerintah tidak bisa menghindar dari kebutuhan untuk diversifikasi mitra perdagangan, termasuk dengan bekerjasama dengan negara supplier seperti Rusia.

Mitsui Global Strategic Studies Institute, dalam pernyataannya beberapa waktu lalu, meminta pemerintah untuk tetap menjalin kerjasama intensif dengan Rusia. Walaupun sedang berada di tengah eskalasi konflik politik antara Rusia dan Ukraina, kerjasama dengan Moskow diperlukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional. "Jepang harus mengupayakan stabilitas sumber energi dengan harga yang terjangkau. Salah satunya adalah dengan mengimpor dari Rusia," demikian ujar Analis Mitsui Global Strategic Studies Institute, Yukio Horiuchi.

Diversifikasi memang diperlukan oleh pemerintah untuk memangkas biaya gas alam yang semakin mahal. Sejak gempa bumi merusak fasilitas nuklir, Jepang memang mengandalkan liquefied natural gas sebagai sumber tenaga utama. Sayangnya, harga beli LNG yang sebagian besar berasal dari Australia tergolong mahal, selain komoditas lain seperti batubara. Sementara untuk sumber minyak, Jepang masih bergantung pada impor dari negara Timur Tengah. Rusia dipandang bisa menjadi mitra strategis karena negara itu dapat menjual energi dengan harga lebih murah kepada konsumen baru. Lebih dari itu, mereka juga memiliki sumber daya berlimpah untuk ketiga jenis energi yang dibutuhkan Jepang yakni LNG, batubara dan minyak. "Rusia adalah satu-satunya negara dekat perbatasan yang mampu memenuhi kebutuhan energi kita," tutup Horiuchi.

 (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar