Sabtu, 16 Desember 2017

world-economy  World Economy

Meski Kas Menipis, Rusia Diyakini Belum akan Pailit

Selasa, 3 Februari 2015 10:36 WIB
Dibaca 1283

Monexnews - Penurunan harga minyak dunia tidak hanya mengancam prospek bisnis perusahaan energi dan migas. Namun juga rentan memicu kebangkrutan negara-negara yang pemasukan devisanya berasal dari ekspor minyak ke luar negeri, seperti Rusia.

Kombinasi antara embargo barat, pelemahan mata uang Ruble dan tren penurunan harga minyak mentah sudah membuat perekonomian Rusia lesu. Di tahun 2015, negara Eropa Timur ini dipastikan tidak bisa menghindar dari resesi dan bukan tidak mungkin default. Setidaknya itulah yang ditakutkan oleh pelaku pasar keuangan dan pebisnis yang memiliki pangsa pasar di sana.

Tetapi Kepala Ekonom Mizuho Securities, Hajime Takada, memiliki pendapat lain. Menurutnya, Moskow belum akan default dalam waktu dekat walaupun negara itu memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap sektor energi, yang harganya sekarang sedang turun tajam. "Rusia mempunyai tabungan kas berlimpah yang terkumpul di era booming energi beberapa tahun lalu," kata Takada. Lebih dari itu, jumlah piutang luar negeri bank dan perusahaan Rusia masih lebih besar dibandingkan jumlah pinjamannya. Adapun bank sentral juga memiliki cadangan devisa $340 miliar yang berguna untuk melindungi sistem keuangan dan kurs valuta domestik. "Presiden Putin berani menentang barat karena ia memiliki dana jangka pendek yang kuat," ulas Takada dalam laporan tertulisnya kepada Dow Jones Newswires.

Propek bisnis dan investasi di Rusia memang semaki tidak menentu setelah pekan lalu agensi kredit Standard & Poor's (S&P) menurunkan penilaian kreditnya untuk negara ini menjadi 'junk' atau sampah. Dengan kata lain, segala aset yang berasal dari Rusia tidak lagi memiliki daya tarik sama sekali dari kacamata investasi.

Kombinasi antara embargo ekonomi blok barat dan tren penurunan harga minyak dunia turut mempersempit ruang bisnis peusahaan swasta. Banyak perusahaan yang mulai kehabisan uang kas akibat tren perlambatan ekonomi dan instabilitas mata uang Ruble. Apabila tidak ada solusi dari pemerintah, dalam waktu dekat diprediksi akan banyak pelaku bisnis yang gulung tikar. Di saat yang sama, depresiasi mata uang Ruble memaksa pemerintah Rusia mengambil kebijakan tidak populer berupa penetapan suku bunga tinggi, dari level 10,5% menjadi 17% di akhir tahun lalu meski akhirnya diturunkan lagi pekan lalu beberapa basis poin. Sementara performa harga minyak yang buruk telah menjatuhkan nilai mata uang Rusia sampai 40% sepanjang tahun 2014.

 (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar