Rabu, 18 Januari 2017

breaking-news PM Inggris Theresa May: Pemerintah Akan Ajukan Kesepakatan Brexit Baru Untuk Voting Parlemen

world-economy World Economy

Meski Tujuannya Positif, UU Ekspor Mineral Menuai Kritikan

Selasa, 14 Januari 2014 14:52 WIB
Dibaca 849

Monexnews - Keberanian pemerintah untuk memberlakukan larangan ekspor mineral mentah cukup mengejutkan pelaku bisnis luar negeri. Mengingat sebagai supplier penting dalam dunia perindustrian, Indonesia memegang peran penting terhadap keberlangsungan industri dan manufaktur di negara lain.

Menurut perusahaan jasa keuangan dan perbankan Prancis, BNP Paribas, mekanisme dan penerapan kebijakan Undang-undang (UU) Mineral dan Batu Bara (Minerba) masih tidak jelas hingga saat ini. Argumen BNP mengacu pada diperbolehkannya raksasa pertambangan Amerika Serikat, Freeport McMorran Copper dan Newmont untuk mengekspor tembaga bernilai miliaran Dollar. Sikap 'pilih kasih' inilah yang menjadi bahan kritikan yang harus dijawab secepatnya oleh kabinet Indonesia Bersatu.

Sikap gamang pemerintah menimbulkan kebingungan tentang penerapan UU larangan ekspor mineral mentah. Sejumlah negara sudah mengutarakan restunya karena eksplorasi dan pengolahan sumber daya memang menjadi domain pemerintah masing-masing negara. Tetapi keraguan justru datang dari pelaku industri dalam negeri yang melihat negara ini belum juga mau membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit atau nikel baru untuk mengolah mineral yang sudah ditambang.

Tidak hanya itu, perekonomian Indonesia juga berisiko mengalami penurunan jumlah pendapatan dari aktivitas ekspor mineral. Sedangkan 800 ribu pegawai tambang terancam di-PHK (Putus Hubungan Kerja) akibat pemberlakuan regulasi ekspor mineral yang baru. Walaupun bertujuan untuk melindungi sumber daya domestik, jumlah infrastruktur dinilai belum sepadan dengan besarnya volume produksi.

Sementara itu dari luar negeri, China menjadi salah satu negara produsen alumunium yang terusik oleh kebijakan Indonesia. Produsen di sana dipastikan keberatan dengan aturan terbaru tentang ekspor mineral, mengingat bahan baku bauksit untuk alumunium biasanya dipesan dari indonesia. Menurut Chairman Alcoa, produsen alumunium terbesar dunia, larangan ekspor mineral mentah akan berdampak pada kapasitas produksi smelter dan refinery pabrik China. “China jelas cemas dengan kebijakan Indonesia, itu terlihat jelas," ujar Klaus Kleinfeld kepada media Sidney Morning Herald, kemarin. Kleinfeld mengatakan kalau dalam beberapa bulan terakhir menjelang diberlakukannya larangan ekspor bauksit oleh Indonesia, China menambah pembelian bauksit dalam jumlah besar.

Komentar sedikit berbeda diungkapkan oleh lembaga pemeringkat, Fitch Ratings, yang dalam pernyataannya menyebut langkah pemerintah Indonesia hanya akan berdampak kecil terhadap produsen alumunium China. Pabrik-pabrik di negara itu diklaim sudah memiliki cadangan bahan mentah untuk stok satu tahun. Hal ini akan membuat suplai material terjaga dan biaya produksi tidak banyak berubah.

Pada 2013 lalu impor bauksit China naik sekitar 80% di tengah kenaikan jumlah produksi alumina (bahan dasar alumunium) sebesar 18-20%. "Para produsen China sudah mulai mengurangi ketergantungan terhadap supplier Indonesia. Mereka siap menghadapi larangan ekspor sehingga biaya produksi tidak akan banyak berubah," urai Fitch.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar