Selasa, 26 September 2017

world-economy  World Economy

OPEC: Pelemahan Kurs Negara Berkembang Ancam Prospek Minyak

Jumat, 14 Februari 2014 10:17 WIB
Dibaca 593

Monexnews - Trend pelemahan mata uang negara berkembang atau emerging countries berlanjut di awal tahun 2014. Efeknya tidak hanya berdampak pada stabilitas neraca dan nilai aset negara bersangkutan, namun juga bisa berpengaruh terhadap volume permintaan minyak mentah.

Pandangan tersebut diungkapkan oleh Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dalam pernyataan resminya beberapa jam lalu. Menurut kartel minyak terbesar dunia ini, depresiasi valuta negara berkembang baru berpengaruh minimal terhadap pasar minyak. Namun apabila terus berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, aksi jual mata uang bisa berujung pada penurunan volume permintaan. Hal ini dimungkinkan karena minyak ditransaksikan dalam bentuk Dollar, yang trend pergerakannya justru sedang menguat.

"Negara berkembang adalah motor penggerak transaksi minyak dalam beberapa tahun terakhir," demikian OPEC dalam pernyataannya. OPEC mengakui kalau pertumbuhan ekonomi di negara maju memang mulai positif, namun fenomena ini tidak serta merta mampu mengimbangi potensi penurunan jumlah permintaan dari negara berkembang.

Statement OPEC dirilis untuk merespon kondisi terbaru di negara-negara berkembang, khususnya terkait dengan kinerja nilai tukar valuta seperti Lira, Rupee dan Rupiah. Dalam sebulan terakhir, otoritas moneter emerging countries bergerak agresif untuk melindungi stabilitas kurs domestik. Setelah Turki dan India, Bank Sentral Afrika Selatan ikut menaikkan suku bunga acuannya bulan lalu di tengah aksi jual aset-asetnya di pasar keuangan.

Bank sentral Afrika Selatan menaikkan suku bunga dari 5.0% menjadi 5.5% guna membendung depresiasi kurs. Sebelumnya, Reserve Bank of India juga menaikkan suku bunga dari 7.75% menjadi 8.00% dan otoritas Turki bahkan bertindak lebih agresif, yaitu dengan menggandakan suku bunga acuan hingga nyaris dua kali lipat dari level 7.75% menjadi 12%. Bank Indonesia sudah mengencangkan sabuk moneter sejak pertengahan tahun lalu dan berkomitmen untuk mengambil langkah antisipasi lanjutan apabila efek tapering (penarikan stimulus) Amerika Serikat berpengaruh negatif terhadap stabilitas ekonomi dan harga-harga.

Sejak krisis finansial melanda Amerika Serikat sekitar 6 tahun lalu, aset-aset negara berkembang memang lebih disukai oleh investor. Pelonggaran moneter yang dilakukan Federal Reserve, yakni melalui pengucuran stimulus dan penurunan suku bunga ke level ekstrim, membuat produk-produk keuangan asal negeri adidaya tidak memberikan return yang bagus. Aksi beli aset-aset negara berkembang terus berlangsung setidaknya sampai satu tahun silam sehingga nilai tukar sebagian mata uang negara berkembang konsisten menguat. Namun sekarang di tengah fase awal penarikan stimulus Amerika, prospek produk emerging markets sudah tidak menjanjikan lagi. Setidaknya asumsi inilah yang dipakai oleh mayoritas investor.

OPEC menyebut volume permintaan minyak untuk tahun 2014 akan bertambah sebanyak 1.1 juta barel per hari. Sementara harga acuan minyak OPEC, yang merupakan rata-rata harga berbagai varian minyak, turun nyaris $3 ke level $104.7 per barel di bulan Januari. Trend pelemahan mata uang negara berkembang ditengarai menjadi pemicu utama dari koreksi harga di pasar komoditi.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar