Selasa, 24 Januari 2017

world-economy  World Economy

Pangeran Saudi: Minyak Tidak akan Pernah ke $100 Lagi

Selasa, 13 Januari 2015 14:22 WIB
Dibaca 583

Monexnews - Tren penurunan harga minyak dunia masih berlangsung sampai dengan awal 2015. Bukan hanya investor, pelaku industri sendiri mulai pesimis dengan prospek harga 'emas hitam' dalam beberapa waktu ke depan. 

Salah satu orang yang tidak yakin kalau harga minyak mampu menguat dalam skala besar adalah Pangeran Alwaleed bin Talal dari Arab Saudi. Miliuner yang dikenal kontroversial ini bahkan menilai prospek minyak sangat buruk sehingga tidak akan mampu lagi menjangkau lagi level psikologisnya. "Kita tidak akan melihat minyak di level $100-an per barel lagi," katanya kepada USA Today. Alwaleed mengatakan bahwa pasar minyak menghadapi skenario terburuk, yaitu peningkatan suplai di tengah berkurangnya permintaan.

Minyak mentah dunia pertama kali menembus level $100 di tahun 2008 akibat krisis. Banyak pihak memprediksi hasil bumi ini mampu mencetak rekor $200 per barel dalam waktu yang tidak lama seiring dengan peningkatan industri di China dan India. Kemudian dalam 3 tahun terakhir, harga minyak berkisar di antara $90 dan $110 per barel sampai dengan bulan Juli lalu. Sejak itu, harga tidak pernah lagi menguat karena terimbas besarnya suplai minyak dari Amerika Serikat berkat teknologi pengeboran 'shale'.

Prince Alwaleed mengakui kalau koreksi harga minyak dunia merugikan negaranya sendiri, yang dikenal sebagai produsen terbesar dunia. "Satu-satunya yang menyenangkan (bagi Arab Saudi), kami bisa melihat banyak perusahaan shale asal AS bangkrut," kelakarnya.

Suka atau tidak, pendapat Alwaleed ada benarnya. Penurunan harga minyak memang membuat keuntungan produsen shale asal Amerika berkurang drastis. Beberapa perusahaan bahkan sudah mati-matian memapas belanja modalnya untuk tahun 2015, memotong dividen dan mem-PHK pekerja karena pemasukan dari pos penjualan tidak mampu mengimbangi besarnya biaya produksi. Jika kondisi tidak kunjung membaik, banyak perusahaan migas diperkirakan berhenti operasi. Rystad Energy melaporkan bahwa sudah ada perusahaan minyak shale yang mengurangi aktivitas pengeborannya. Di pekan pertama 2015, lahan pengeboran Bakken, Eagle Ford dan Permian relatif sepi karena produsen menghentikan proses drilling.

Pangeran Alwaleed sendiri melihat minyak pada akhirnya pasti akan rebound dari level rendahnya. "Tetapi saya rasa mustahil menjangkau lagi level $100," tutupnya.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar