Sabtu, 25 Maret 2017

world-economy  World Economy

Pasar China Terbelenggu Faktor Fundamental

Selasa, 9 Juli 2013 15:08 WIB
Dibaca 285

Monexnews - Indeks bursa Shanghai tampil berkinerja positif dengan rally di perdagangan hari Selasa (9/7) setelah pemerintah merilis angka inflasi China meningkat di bulan Juni akibat naiknya harga pangan.

Angka inflasi tahunan China (CPI y/y) tercatat naik 2.7% di bulan Juni dari sebelumnya 2.1% di bulan Mei, dan melampaui ekspektasi pemerintah sebesar 2.5%. Sedangkan masalah kelebihan kapasitas produksi (overcapacity) menggiring harga produsen China (PPI) kembali merosot untuk 16 bulan berturut-turut. Angka PPI y/y China bulan Juni tercatat -2.7% dari bulan sebelumnya -2.9% sesuai ekspektasi.    

Hingga sesi siang di hari Selasa (9/7) indeks utama Shanghai Composite tercatat menguat 0.37% atau meraih gain sebanyak +7.31 poin pada area 1965.58. Secara umum rally bursa Shanghai karena terinspirasi oleh rebound bursa Asia berkat banyaknya petunjuk positif dari pasar Amerika Serikat (AS) sehingga turut mampu mengangkat mayoritas pasar regional.

Namun demikian, laju pergerakan indeks Shanghai nampak terbatas lantaran kalangan investor menjadi waspada setelah data inflasi China yang di rilis hari ini menunjukkan kenaikkan tajam. Meskipun lebih tinggi dari angka sebelumnya, namun hasil rilis tersebut merupakan tingkat inflasi semester pertama yang terendah sejak tahun 2009. Berarti hal itu mengindikasi adanya penurunan tingkat permintaan serta aktivitas ekonomi domestik China.

Sementara sentimen investor nampak masih terbebani setelah proyeksi pertumbuhan ekonomi negara China kembali di pangkas oleh lembaga pemeringkat Citigroup pada hari Senin kemarin (8/7). Angka pertumbuhan GDP (gross domestic product) China diturunkan ke level 7.4% dari sebelumnya 7.6% untuk tahun 2013, dan 7.1% untuk tahun 2014 dari sebelumnya 7.3%. Penurunan outlook tersebut terpaksa dilakukan karena tidak ada langkah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah menyusul angka-angka ekonomi yang mengecewakan yang menandai melambatnya perekonomian negeri tirai bambu tersebut.

Sebelumnya, di hari Jumat pekan lalu, pihak the State Council China menyatakan akan memperketat pengawasan kredit ke sektor industri yang tujuannya untuk meredakan kelebihan kapasitas produksi. Selain itu, pihaknya juga akan memperkuat pengawasan produk manajemen kekayaan dan menekankan pentingnya stabilitas di pasar keuangan. Dan saat ini pasar masih menantikan data fundamental ekonomi seperti industrial output, retail sales dan GDP kuartal II yang sedianya akan rilis tanggal 15 Juli pekan depan.

(Daru Wibisono)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar