Selasa, 17 Januari 2017

world-economy World Economy

Pebisnis Keluhkan Sentimen Anti-Amerika di China

Rabu, 11 Februari 2015 10:27 WIB
Dibaca 685

Monexnews - Di sektor bisnis, faktor nasionalisme konsumen kerap kali menjadi faktor penentu kesuksesan ekspansi perusahaan asing di suatu negara. Tidak jarang masyarakat suatu negara enggan memakai produk asing hanya gara-gara perusahaan pembuatnya berasal dari negara 'musuh'. 

Hal itu dirasakan betul oleh perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang berbisnis di China. Pelaku bisnis asal negeri Paman Sam mengeluhkan penurunan laba dari pangsa pasar terbesar dunia itu dalam beberapa waktu terakhir. Selain dipengaruhi oleh penurunan daya belanja konsumen, produk mereka tidak terlalu laku karena adanya sentimen anti-Amerika.

Menurut hasil survei Kamar Dagang Amerika Serikat, sebagian besar pelaku usaha menilai perusahaan asal Amerika selalu dijadikan 'korban' kampanye negatif yang dilakukan oleh pemerintah China. Berbagai tudingan soal monopoli bisnis dan banyaknya penyidikan oleh badan pengawas persaingan usaha telah mempersempit ruang bisnis perusahaan Amerika. Tidak heran jika konsumen seringkali 'termakan' oleh kampanye negatif pemerintah sehingga enggan membelanjakan uangnya untuk membeli barang-barang buatan negara barat.

Sebanyak 47% perusahaan yang disurvei merasa sudah tidak disambut dengan baik oleh pemerintah China dibandingkan dengan satu tahun lalu. Hanya sekitar 10% yang masih menganggap China sebagai negara yang 'ramah' untuk berbisnis.

Seperti diketahui, otoritas pengawas usaha Tiongkok semakin rajin melakukan investigasi terhadap perusahaan-perusahaan asal Amerika. Kebanyakan adalah merek-merek produk teknologi dan otomotif, dengan tuduhan praktik monopoli. Sanksi terbaru yang dikeluarkan oleh pemerintah China dikenakan kepada perusahaan pembuat chip komputer dan ponsel, Qualcomm, dengan rekor denda mencapai $975 juta atas tuduhan pelanggaran UU persaingan usaha. Korporasi papan atas dunia semacam Apple dan Microsoft juga sedang diselidiki oleh China. 

Pun demikian, sebanyak 60% anggota Kamar Dagang Amerika masih menilai China sebagai salah satu dari 3 lokasi tujuan bisnis paling potensial. Mayoritas perusahaan menargetkan kenaikan omset di tahun 2015 dan hanya 31% perusahaan yang tidak berencana ekspansi ke Tiongkok.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar