Rabu, 13 Desember 2017

world-economy  World Economy

Pemerintah Tetap Waspadai Perkembangan Ekonomi Global

Senin, 22 September 2014 15:05 WIB
Dibaca 1064

Monexnews - Pemerintah perlu melakukan antisipasi atas rencana Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed yang akan segera mengakhiri kebijakan quantitative easing III. Hal ini menjadi lebih krusial menyusul terkontraksinya perekonomian Eropa, Tiongkok dan Jepang.

“Ketidakpastian dan volatilitas pasar keuangan dunia masih akan terjadi baik dalam jangka pendek maupun jangka menengah. Dampak dari tekanan eksternal telah kita rasakan bersama saat ini, dan dapat dipastikan gelombang ketidakpastian masih akan terus terjadi,” jelas Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Firmanzah sebagaimana dilansir situs resmi Sekretariat Kabinet pada Minggu (21/9).

Menurutnya, untuk memitigasi pengaruh ketidakpastian eksternal tersebut, pemerintah perlu menjaga dan meningkatkan prinsip kehati-hatian dan kewaspadaan dalam pengelolaan sektor moneter, fiskal dan sektor riil. Oleh karena itu, penciptaan formula yang tepat dan keseimbangan dinamis (dynamic-equilibrium) antara nilai tukar rupiah, suku bunga, inflasi, cadangan devisa serta indikator sektor riil sangat diperlukan.

Ia meyakini, melalui koordinasi antara Bank Indonesia, Pemerintah, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Indonesia dapat tetap menjaga dan meningkatkan daya tahan (resiliency) dan daya saing (competitiveness) perekonomian Indonesia, baik dalam jangka pendek maupun jangka menengah.

Sebagai informasi, sebelumnya, pada sesi perdagangan minggu ketiga September 2014, hampir seluruh mata uang di Asia melemah terhadap dolar AS. Beberapa negara yang mengalami pelemahan nilai tukar mata uangnya antara lain Malaysia, Korea Selatan, Filipina, Jepang, Thailand, Singapura, Taiwan dan juga Indonesia.

Hal tersebut merupakan imbas dari keputusan Bank Sentral AS untuk mengurangi likuiditas global melalui pengurangan hingga penghentian stimulus moneter quantitative easing III. Sementara, di sisi lain, Bank Sentral Eropa (European Central Bank-ECB) bersama Bank Sentral Jepang dan Bank Sentral China berusaha mempertahankan, bahkan menambah likuiditas untuk menggairahkan perekonomian di kawasan tersebut. “Inilah faktor utama yang menyebabkan pelemahan nilai tukar mata uang di hampir mayoritas emerging-market,” jelasnya.(wa)

 

Sumber: rilis berita Kementerian Keuangan Republik Indonesia
www.kemenkeu.go.id
*disadur tanpa penyuntingan

 (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar