Rabu, 22 Februari 2017

world-economy  World Economy

Pemulihan Eropa akan Picu Eksodus Tenaga Kerja

Rabu, 5 Juni 2013 13:06 WIB
Dibaca 352

Monexnews - Perusahaan-perusahaan Eropa dalam tiga tahun ke depan harus mewaspadai eksodus tenaga kerja. Perpindahan karyawan dari satu tempat ke tempat lain tidak bisa dihindari di tengah pemulihan ekonomi kawasan.

Eksodus massal di Eropa diprediksi terjadi di kalangan pekerja benua biru. Namun secara harfiah hal ini adalah suatu siklus yang positif karena banyak orang akan tergoda pindah untuk mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih tinggi. Perbaikan iklim bisnis dan manufaktur untuk tiga tahun ke depan dapat meningkatkan marjin keuntungan perusahaan, sehingga mereka semakin mampu menggaji karyawan dalam jumlah besar. Proyeksi ini dirilis oleh lembaga manajemen konsultasi Hay Group dan Centre for Economics and Business Research (CEBR) dalam studinya yang berjudul 'Preparing Take-off' atau 'Bersiap Lepas Landas'.

Arus turnover atau perpindahan tenaga kerja akan mencapai puncaknya di tahun 2016 dengan rasio mencapai 18.7% dari total jumlah pekerja Eropa. Persentase tersebut setara dengan dua kali lipat perpindahan tenaga kerja tahun 2012 yang hanya sebesar 9%. Secara nominal, 39 juta SDM nantinya berpindah dari perusahaan satu ke perusahaan lain seiring terbukanya peluang baru di tengah perbaikan ekonomi fundamental.

Menurut Ben Hubbard, Direktur Hay Group, kombinasi antara perlambatan ekonomi, pemangkasan anggaran pemerintah dan krisis Euro telah membuat perpindahan karyawan sangat rendah belakangan ini. Banyak warga tidak memiliki kesempatan pindah karena minimnya lowongan dan lebih memilih untuk bersama dengan perusahaannya sekarang. "Kalau pindah di tengah kondisi ekonomi seperti ini sangat riskan. Mereka akan pindah saat situasi membaik dan ada tawaran gaji lebih tinggi," kilah Hubbard.

Sektor yang diprediksi menjadi primadona pencari kerja adalah information, communication and technology (ICT), layanan jasa profesional dan kesehatan. Kemudian disusul oleh sektor ritel, yang akan menggeliat seiring dengan peningkatan daya beli konsumen. "Saat ini sebanyak 53% pekerja tidak puas dengan standar pendapatannya, dan 43% tidak yakin perusahaannya bisa memberikan kepedulian yang tinggi kepada seluruh pekerja," demikian bunyi salah satu bagian dalam laporan Hay Group.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar