Jumat, 28 Juli 2017

world-economy  World Economy

Pencabutan Stimulus Buruk bagi Emerging Markets

Rabu, 4 September 2013 16:12 WIB
Dibaca 718

Monexnews - Pelaku bisnis dan keuangan di Amerika Serikat pada umumnya tidak akan suka jika Federal Reserve benar-benar jadi menarik stimulus moneter dalam waktu dekat. Pengurangan porsi dana murah dalam sistem keuangan diyakini berimbas negatif terhadap iklim perekonomian yang belum normal pasca krisis setengah dekade silam.

Selain warga Amerika, pelaku bisnis dan masyarakat di negara-negara berkembang hampir pasti turut terdampak oleh penarikan stimulus Federal Reserve. Sebagai negara perekonomian terbesar dunia, Amerika merupakan poros ekonomi dunia. Bukan hanya sektor riil, pasar finansial sudah mulai terpengaruh oleh skenario reduksi pembelian obligasi $85 miliar per bulan per September 2013. Investor yang tadinya menanamkan modal di negara berkembang atau emerging markets, kini menarik uangnya karena pasar Amerika berangsur atraktif. Outflow likuiditas dari negara berkembang ke negara maju akan meninggalkan lubang di pasar keuangan regional.

"Penarikan stimulus bisa membuat negara-negara berkembang 'menangis'," ujar Angel Gurria, Sekjen Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) kepada CNBC. Menurutnya, perekonomian menghadapi risiko besar jika kebijakan moneter longgar diakhiri oleh Federal Reserve. Kondisi ekonomi negara maju memang berangsur membaik, namun jika stimulus dicabut maka giliran negara berkembang yang akan berada dalam posisi sulit. Mengingat selama ini roda investasi emerging markets sangat bergantung pada aliran modal dari pemain-pemain dari negara maju.

"Arus dana mulai keluar namun negara-negara berkembang belum melakukan restrukturisasi supaya lebih mandiri," tuturnya. Pasar saham negara-negara kekuatan ekonomi baru telah terpukul oleh isu pengurangan stimulus dalam beberapa bulan terakhir. Indeks-indeks saham melemah karena perputaran modal tidak se-aktif sebelumnya, saat investor finansial membanjiri pasar ekuitas dengan hot money. Negara seperti Brazil, India dan Turki sudah terimbas isu penghentian quantitative easing. India dan Meksiko direkomendasikan untuk melakukan reformasi ekonomi domestik supaya bisa selamat di tengah persaingan global. Gurria berpendapat kalau pengetatan moneter adalah sinyal yang bagus di tengah iklim perbaikan ekonomi. "Kita semua tahu bahwa stimulus tidak bisa berlangsung selamanya," tutupnya.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar