Jumat, 20 Januari 2017

breaking-news Klaim pengangguran AS turun menjadi 234K di pekan lalu vs 249K, estimasi pada 252K

world-economy World Economy

Pengetatan Ekspor Indonesia Ancam Industri Alumunium China

Senin, 13 Januari 2014 16:01 WIB
Dibaca 561

Monexnews - Pemerintah resmi melarang ekspor produk mineral mentah ke luar negeri per bulan ini. Langkah kabinet Susilo Bambang Yudhoyono itu akan menyusahkan perusahaan logam olahan, khususnya mereka yang berproduksi di wilayah China.

China merupakan salah satu negara produsen alumunium terbesar dunia. Produsen di sana dipastikan keberatan dengan aturan terbaru tentang ekspor mineral, mengingat bahan baku bauksit untuk alumunium biasanya dipesan dari indonesia. 

Sejak 12 Januari kemarin, Indonesia resmi memberlakukan larangan ekspor mineral mentah sesuai amanat dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Menurut Chairman Alcoa, produsen alumunium terbesar dunia, larangan ekspor mineral mentah akan berdampak pada kapasitas produksi smelter dan refinery pabrik China. “China jelas cemas dengan kebijakan Indonesia, itu terlihat jelas," ujar Klaus Kleinfeld kepada media Sidney Morning Herald, beberapa jam lalu. Kleinfeld mengatakan kalau dalam beberapa bulan terakhir menjelang diberlakukannya larangan ekspor bauksit oleh Indonesia, China menambah pembelian bauksit dalam jumlah besar.

Komentar sedikit berbeda diungkapkan oleh lembaga pemeringkat, Fitch Ratings, yang dalam pernyataannya menyebut langkah pemerintah Indonesia hanya akan berdampak kecil terhadap produsen alumunium China. Pabrik-pabrik di negara itu diklaim sudah memiliki cadangan bahan mentah untuk stok satu tahun. Hal ini akan membuat suplai material terjaga dan biaya produksi tidak banyak berubah.

Pada 2013 lalu impor bauksit China naik sekitar 80% di tengah kenaikan jumlah produksi alumina (bahan dasar alumunium) sebesar 18-20%. "Para produsen China sudah mulai mengurangi ketergantungan terhadap supplier Indonesia. Mereka siap menghadapi larangan ekspor sehingga biaya produksi tidak akan banyak berubah," urai Fitch. Saat berita ini ditulis, kontrak produk berjangka alumunium tiga bulan tercatat naik 0.4% ke $1,772.75/ton.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar