Senin, 23 Januari 2017

breaking-news Penjualan Ritel Inggris turun -1.9% di Desember vs. 0.2% di November, ekspektasi -0.1%.

world-economy  World Economy

Penumpang Pesawat Disarankan Tidak Perlu Takut Tertular Ebola

Rabu, 27 Agustus 2014 13:38 WIB
Dibaca 430

Monexnews - Wabah Ebola semakin meluas dari wilayah Afrika ke negara-negara lain di luar benua. Tingginya volume penularan membuat salah satu virus paling mematikan di dunia ini dianggap sebagai musuh internasional.

Banyak warga dunia yang khawatir bepergian ke luar negeri karena takut terkena Ebola. Hal ini justru ditakutkan bisa mengganggu bisnis di industri transportasi khususnya pewasat udara. Menyikapi kekhawatiran tersebut, otoritas penerbangan udara dunia menegaskan bahwa risiko penularan Ebola tidak sebesar virus SARS, yang sempat mewabah di Asia beberapa tahun lalu. "Ebola memang menakutkan, tetapi juga sangat berbeda dengan SARS, yang sempat menghancurkan industri penerbangan di Asia beberapa waktu lalu," ujar Tony Tyler, Director General and Chief Executive International Air Transport Association.

Dalam konferensi di Vietnam beberapa saat lalu, Tyler mengaku sudah berkonsultasi dengan World Health Organization terkait penyebaran EBola. Menurut rekomendasi badan PBB itu, risiko penyebaran Ebola selama perjalanan udara relatif kecil meski bukan berarti nihil. "Kami sudah pernah berurusan dengan berbagai macam wabah, oleh karena itulah kesiapan pelaku industri selalu terjaga," ujarnya. Tyler berupaya meyakinkan publik agar tidak terlalu cemas menyikapi pemberitaan di media.

Ebola memang menyita perhatian banyak negara meski sumber penularannya bermuara di wilayah Afrika. Beberapa negara bahkan berlomba memberikan sumbangan baik moril dan materil, termasuk donasi jasa medis berupa antivirus hasil penelitian departemen kesehatannya masing-masing. Pekan lalu pemerintah Jepang menawarkan bantuan obat-obatan untuk mengobati pasien yang terjangkit kepada tim medis lapangan.
Tawaran Jepang itu dijelaskan oleh Menteri Sekretaris Kabinet, Yoshihide Suga, dalam konferensi persnya. Ia menegaskan pemerintah siap membantu distribusi obat untuk menangkal penyebaran Ebola bahkan sebelum WHO menyetujui itikad baik tersebut. Walaupun distribusi obat langsung kepada tim medis tidak dilarang dalam situasi darurat, pihak Jepang berjanji sebisa mungkin menjalin kerjasama dengan WHO dalam penyalurannya.

"Saya mendapat informasi bahwa tim medis bisa meminta suplai vaksin T-705 di masa darurat meski belum ada persetujuan WHO. Jika memang dimungkinkan, kami mau membantu," demikian ujar Suga pekan lalu. T-705 sendiri merupakan kode pengembangan untuk obat flu favipiravir. Perusahaan yang memproduksinya yaitu Fujifilm Holdings Corp asall Jepang dan partnernya, MediVector asal Amerika Serikat, sedang berkonsultasi dengan U.S. Food and Drug Administration terkait proposal perpanjangan masa pakai favipiravir sebagai obat perawatan Ebola.

Wabah Ebola di Afrika telah membunuh lebih dari 1000 jiwa dan dinyatakan sebagai penyakit kesehatan internasional oleh WHO. Sekitar dua pekan lalu, Kanada juga berbaik hati menyumbangkan sebagian vaksin penangkal virus Ebola kepada negara-negara Afrika. Pemerintahnya menyalurkan vaksin hasil eksperimen tersebut melalui World Health Organization (WHO).

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar