Jumat, 21 Juli 2017

world-economy  World Economy

Pertumbuhan GDP RI Diprediksi Tidak Sampai Level 5%

Senin, 4 Mei 2015 13:21 WIB
Dibaca 435

rial, helvetica, sans-serif;">Monexnews - Beberapa indikator ekonomi penting akan dirilis oleh badan pemerintah Indonesia sepanjang pekan ini. Setelah PMI dan angka inflasi dirilis beberapa jam lalu, pelaku pasar keuangan siap-siap menantikan data produk domestik bruto (GDP) untuk kuartal I 2015.

Investor sepertinya sudah mengantisipasi hasil data GDP Indonesia kuartal I yang keluar hari Selasa (05/05). Angkanya diprediksi kurang bagus, turun ke bawah level 5% atau lebih buruk dibandingkan rata-rata GDP 2014. Perekonomian Indonesia diklaim oleh banyak kalangan sedang melambat di berbagai sektor, mulai dari penjualan produk dasar hingga barang-barang mewah. Bahkan bank investasi Credit Suisse dalam wawancaranya dengan CNBC menegaskan Indonesia sangat butuh motor pendorong ekonomi. Namun sampai sekarang belum ada langkah signifikan yang dilakukan oleh pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan.

Kekhawatiran soal pertumbuhan GDP tercermin dari kinerja indeks saham utama, yang sudah anjlok lebih dari 6% sepanjang pekan lalu. Investor sudah melakukan aksi jual karena sudah ada indikasi penurunan ekonomi di banyak sektor bisnis. Namun demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini terpantau menguat sekitar 1,2% akibat minat beli investor yang cukup tinggi.

Presiden Jokowi sendiri menargetkan kenaikan pendapatan negara sebanyak 14% di tahun 2015, mengerek pemasukan pajak 30% dan menambah belanja infrastruktur sampai 60%. Sayangnya penurunan harga komoditi berpotensi mengurangi pendapatan negara sampai $21,4 miliar.

Sinyal penurunan gairah ekonomi tercermin dari rilis data purchasing manufacture index (PMI) Indonesia versi HSBC untuk periode April 2015 yang dirilis pagi ini. Angka PMI naik dari 46.4 (Maret) menjadi 46.7. Namun demikian rilis angka di bawah 50 masih menunjukkan penurunan kinerja pabrik-pabrik yang telah berlangsung selama 7 bulan berturut-turut.

Dari beberapa hasil survei yang diperhitungkan, komponen bisnis dari luar negeri mencatat penurunan tajam. Hasil produksi pabrik menurun dalam laju tercepat ke-duanya sejak perhitungan data dilakukan oleh HSBC. Pesanan untuk ekspor masih lesu dan permintaan domestik juga rendah. Pelemahan Rupiah gagal mengangkat pendapatan ekspor karena pelaku bisnis harus berjuang untuk menyiasati kenaikan harga bahan baku. Pemilik usaha bahkan masih dipaksa untuk mengurangi jumlah karyawan selama 9 bulan terakhir. (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar