Minggu, 26 Maret 2017

world-economy  World Economy

Perusahaan Amerika Merasa Dimusuhi oleh Pemerintah Tiongkok

Rabu, 3 September 2014 14:52 WIB
Dibaca 577

Monexnews - Pemerintah China sepanjang tahun ini terus 'mengusik' kinerja bisnis perusahaan-perusahaan Amerika yang beroperasi di wilayahnya. Dengan berbagai alasan, Tiongkok menuding korporasi multinasional telah menyalahi aturan persaingan usaha. 

Menurut survei yang diadakan oleh Kamar Dagang Amerika Serikat, sebanyak 60% anggotanya menganggap pemerintah China tidak senang dengan kehadiran mereka di sana. Persentase pengusaha yang tidak puas naik signifikan karena di akhir 2013 lalu, jumlahnya hanya mencapai 41%.

Nyaris separuh perusahaan besar yang disurvei juga meyakini pemerintah Tiongkok sudah bertindak tidak adil terhadap mereka. Dengan alasan perlindungan harga konsumen dan pemberantasan korupsi, perusahaan Amerika kerap dijerat dengan pasal-pasal hukum. "Apabila iklim investasi turun drastis, maka hubungan baik antara Amerika dan China serta negara lainnya akan rusak," ujar Gregory Gilligan, Kepala Kamar Dagang Amerika.

Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan asing yang berbisnis di China seakan menjadi sasaran tembak aparat hukum setempat, khususnya mereka yang bergerak di sektor teknologi dan otomotif. Jeratan kasusnya cukup beragam, mulai dari tuduhan suap, korupsi, monopoli harga hingga pelanggaran UU persaingan usaha. Raksasa Eropa dn Amerika seperti BMW, Volkswagen, Qualcomm, Microsoft, Apple dan Chrysler pernah dipaksa berurusan dengan otoritas terkait. Kebanyakan di antara mereka dikenai denda besar karena sentimen tersebut. Alhasil, jumlah keuntungan menjadi berkurang karena pembayaran denda-denda itu menggerus kas keuangan.

Kasus terakhir yang ramai dibicarakan adalah perseteruan antara Badan Persaingan Usaha China dan Microsoft terkait masalah transparansi bisnis. Kemarin lusa, otoritas China memberikan ultimatum kepada Microsoft untuk menjelaskan kepada publik tentang kompatibilitas produk Windows dan software Office berikut dengan spesifikasi lain yang dianggap kurang jelas oleh konsumen. Menurut badan pengawas usaha, raksasa teknologi asal Amerika tersebut kurang transparan dalam memaparkan spesifikasi barang jualannya kepada konsumen. State Administration for Industry and Commerce (SAIC) memberikan peringatan kepada Vice President Microsoft, David Chen, untuk memberi penjelasan soal produk yang perusahaannya pasarkan di Tiongkok. Chen memiliki waktu 20 hari untuk memaparkan seluk beluk sistem operasi Windows dan Office sehingga tidak menimbulkan pertanyaan di benak konsumen dengan fokus utamanya adalah soal kompatibilitas masing-masing software dalam sistem komputer yang ada di China. Otoritas beralasan bahwa Microsoft seakan hanya mau menjual barang tanpa memberikan kepastian kepada konsumen apakah piranti lunaknya cocok dipakai di China. Pihak Microsoft sendiri belum memberikan komentar terkait dengan ultimatum 20 hari yang diberikan oleh SAIC.

 

 (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar