Selasa, 28 Maret 2017

world-economy  World Economy

Perusahaan Minyak AS Mulai Produksi Lagi Jika Harga Pulih ke $70

Kamis, 14 Mei 2015 12:22 WIB
Dibaca 4027

Monexnews - Setelah 'libur' dari kegiatan produksinya, perusahaan-perusahaan tambang minyak 'shale' di Amerika Serikat mulai beroperasi lagi. Produsen energi siap memenuhi permintaan karena ada tanda-tanda harga minyak naik lagi.

Pekan lalu, EOG Resources menegaskan siap berproduksi kembali apabila harga minyak di Amerika konsisten pada levelnya saat ini. Sementara Occidental Petroleum berencana menggenjot eksplorasi dalam beberapa bulan ke depan. Perusahaan lainnya juga memberi isyarat untuk mengaktifkan kembali tambangnya saat harga minyak WTI menyentuh $70 per barel atau dekat dengan level harga terkini di area $60.50.

Sebagian analis komoditas menilai trend penguatan harga masih akan berlangsung lambat karena stok di pasar masih mencukupi. Selain didukung oleh limpahan produksi Rusia dan Brazil, pasar energi dunia juga akan mendapat tambahan suplai dari produksi shale Amerika. Kombinasi antara voluma produksi yang besar dan keterbatasan jumlah permintaan diprediksi akan menghambat rally minyak sejak bulan Maret lalu yang persentasenya sudah mencapai 40%. Ada kemungkinan harga kembali turun jika nanti perusahaan shale Amerika kembali mengaktifkan operasionalnya.

Jumlah kilang pengeboran minyak di negara ekonomi terbesar dunia itu berkurang dari 1609 unit menjadi hanya 930 unit sejak Oktober 2014 atau berkurang sebanyak 58%. Sejak harga minyak terjun bebas dari level $107 (Juni 2014) ke kisaran $50 per barel, perusahaan eksplorasi migas di Amerika terpaksa mengurangi jumlah karyawan untuk mringankan beban biaya operasional. Sebanyak 51.747 pekerja di Amerika terkena PHK sejak pertengahan tahun 2014 (data Challenger, Gray & Christmas). Dari jumlah itu, sebanyak 47.610 orang didepak tahun ini karena harga minyak tidak kunjung membaik.

Puncak arus PHK perusahaan minyak terjadi di 3 bulan pertama 2015. Jumlah karyawan yang dirumahkan naik sampai 3.900% dibandingkan triwulan I 2014 dan untuk sektor migas secara keseluruhan (termasuk tambang dan ekstraksi minyak), jumlah PHK sudah menembus 30.000 sepanjang 2015 (data Biro Statistik Tenaga Kerja).

Pekerja di perusahaan eksplorasi menjadi korban pertama karena pihak direksi memutuskan untuk mengurangi proyek penggalian. Di kuartal I, Schlumberger menjadi perusahaan dengan PHK terbanyak mencapai 9000 orang, kemudian disusul oleh Baker Hughes dengan 7000 posisi dan Halliburton dengan 6400 karyawan.

Sementara untuk karyawan yang masih dipertahankan, mereka harus rela menerima pemotongan upah rata-rata antara 10-15% dan bahkan ada yang sampai 25%. Padahal sektor minyak dan gas menjadi salah satu industri yang menyerap sumber daya manusia paling banyak sejak 'boom' shale oil dimulai tahun 2011 silam. (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar