Selasa, 23 Mei 2017

breaking-news Ifo: Indeks Iklim Bisnis Jerman naik ke 114.6 di Mei dari 112.9 di April, estimasi 113.1.

world-economy  World Economy

Presiden China Berencana Copot Gubernur Bank Sentralnya

Kamis, 25 September 2014 11:20 WIB
Dibaca 573

Monexnews - Presiden China, Xi Jinping dilaporkan sedang berencana mengganti Gubernur bank sentralnya saat ini, Zhou Xiaochuan, dengan figur baru. Wacana reshuffle di tubuh People's Bank of China (PBOC) mencuat di tengah perbedaan antar lembaga pendapat soal strategi percepatan ekonomi nasional.

Adapun kandidat terkuat yang akan menggantikan posisi Xiaochuan di tampuk pimpinan tertinggi bank sentral adalah Guo Shuqing. Ia merupakan mantan bankir dan pengawas pasar modal yang sekarang menjabat sebagai Gubernur provinsi Shandong Timur. Pun demikian, kabar ini belum bisa dikonfirmasi kepastiannya dan masih sebatas pemberitaan di media-media.

Dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal, Gubernur Xiaochuang menegaskan dirinya tidak akan mundur meski kerap berbeda pendapat dengan pemerintah. Pria yang sudah menjadi pimpinan bank sentral sejak tahun 2002 ini mengklaim kebijakannya selalu sejalan dengan target pertumbuhan Tiongkok. Pelaku pasar berspekulasi lambatnya arus pemulihan di negara terbesar Asia menjadi biang wacana pemecatan Xiaochuang karena pemerintah ingin bank sentral lebih berperan agresif dalam pelonggaran moneter dibandingkan apa yang sudah mereka lakukan sekarang. Namun sampai sekarang belum ada pihak yang berani mengkonfirmasi kabar ini, baik dari pihak PBOC maupun menteri kabinet. 

Terlepas dari berbagai isu yang beredar, bank sentral diyakini akan tetap merilis stimulus baru karena beberapa indikator ekonomi tidak kunjung membaik. Angka industrial production tumbuh secara pelan dalam rasio 6.9% di bulan Agustus dibandingkan satu tahun lalu. Sementara pertumbuhan investasi tetap anjlok 13.8% (tahunan) dibandingkan catatan bulan Juli, 15.7%. Harga-harga konsumen juga menurun jadi hanya 2% di bulan Agustus atau di bawah target resmi pemerintah, 3.5%.

Rangkaian data negatif itu membuka lagi kekhawatiran soal 'hard landing' di China. Beberapa analis keuangan memprediksi pemerintah akan gagal memenuhi target pertumbuhan 7.5% yang ditetapkan Maret lalu. Beberapa bank bahkan sudah memangkas target pertumbuhan Tiongkok untuk tahun 2014, termasuk Goldman Sachs, yang menurunkan proyeksinya dari 7.7% pada akhir tahun lalu menjadi 7.3%.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `