Kamis, 20 Juli 2017

world-economy  World Economy

Presiden China Redam Friksi antara Media dan Perusahaan Asing

Jumat, 25 Oktober 2013 11:53 WIB
Dibaca 437

Monexnews - Kritikan media pemerintah terhadap perusahaan-perusahaan multinasional tidak kunjung berhenti di tahun 2013. Perusahaan seperti Apple dan Samsung tahu benar bagaimana pahitnya pemberitaan stasiun televisi dan koran BUMN negeri tirai bambu.

Terlepas dari derasnya arus kritik terhadap kinerja operasional perusahaan asing oleh pihak media, pemerintah China menegaskan dukungan bagi korporasi luar. Dalam pertemuan dengan ekspatriat anggota dewan penasihat ekonomi dan manajemen Universitas Tsinghua, Presiden Xi Jinping menegaskan peran penting perusahaan asing terhadap ekonomi dalam negeri. Statement Jinping seakan meredam ketegangan antara pihak pemerintah dan investor asing yang menanamkan modalnya di China.

"Perusahaan multinasional berperan dalam perekonomian dan kemajuan aspek manajerial," demikian ujar Jinping. Sikap sang presiden terlontar di tengah kecaman pihak luar akan aktivitas media China yang selalu 'mengganggu' kepentingan asing. Pemerintah sendiri melalui berbagai kran komunikasinya berulangkali menegaskan bahwa koreksi media adalah salah satu cara untuk melindungi konsumen.

Perang antara media pendukung pemerintah China dan perusahaan multinasional terus berlanjut pekan ini. China Central Television (CCTV) dalam pemberitaannya mengecam Samsung Electronics karena memungut biaya dari perbaikan produk konsumen. Padahal VVTV mengklaim kalau sesungguhnya servis dilakukan akibat cacat produksi. Produk ponsel Samsung Note dan seri S kerap mengalami kerusakan pada komponen kartu memori internalnya. Namun alih-alih memberikan garansi, Samsung justru memungut biaya dari klaim perbaikan yang diajukan oleh konsumen.

Beberapa hari sebelumnya, dua media pemerintah yakni China Central Television (CCTV) dan China Daily, melaporkan bahwa Starbucks memberlakukan harga lebih tinggi untuk produk kopi dan turunannya di gerai-gerai yang berlokasi di China. Padahal di negara lain, termasuk Amerika, harga kopi Starbucks tidak semahal banderol yang berlaku di China. Isu 'pemerasan' konsumen tersebut makin memperuncing friksi antara media pemerintah dan korporasi besar asal negeri Paman Sam.

CCTV melaporkan bahwa kopi latte ukuran sedang dihargai 27 Yuan atau setara $4.40 di China. Jumlah tersebut lebih tinggi ketimbang harganya di Chicago yang hanya $3.20 dan London yang sebesar $4. Laporan yang sama juga menyebut kalau produk mug yang dijual Starbucks (buatan China) dijual mencapai $18, padahal di Amerika banderolnya berkisar di $10-14 per buah.

Sementara di bulan Maret, Apple dituding gagal memberikan layanan berkualitas kepada konsumen China terkait penggunaan komponen rekondisi dalam purna jualnya. Pihak Kementerian Informasi mengklaim pemberitaan media BUMN tersebut adalah wujud kontrol publik terhadap kinerja bisnis swasta. Melalui kritik transparan, pemerintah berharap hak-hak warga konsumen terpenuhi sebagaimana mestinya.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar