Minggu, 23 Juli 2017

world-economy  World Economy

Produsen Minyak Asia Catat Rekor Belanja di 2012

Kamis, 10 Januari 2013 11:52 WIB
Dibaca 622

Monexnews - Di tengah perlambatan ekonomi Eropa dan Amerika, perusahaan-perusahaan asal Asia justru kian agresif melancarkan ekspansi bisnis. Tidak terkecuali produsen energi dan perminyakan, yang sepanjang 2012 telah menggelontorkan rekor belanja mencapai $50 miliar.

Lembaga peneliti PLS yang berbasis di Houston mendokumentasikan aksi korporasi perminyakan asal Asia sepanjang tahun lalu. Perusahaan-perusahaan China memimpin ekspansi perminyakan Asia dengan jumlah pembelian aset minyak dan gas mencapai $31 miliar. Deal terbesar dicatat oleh CNOOC, dalam transaksi pembelian perusahaan asal Kanada Nexen, yang nilai akusisinya menembus $18 miliar. Adapun beberapa pembelian yang juga menyita perhatian adalah akuisisi aset Total di Nigeria oleh Sinopec ($2,5 miliar) dan joint venture antara Petrochina dan Encana ($2,2 miliar). Raksasa minyak Malaysia, Petronas, ikut aktif di pasar dengan mengambil alih lahan minyak dan gas milik Progress Energy yang pusat operasinya terletak di wilayah British Columbia.

Perusahaan India, ONGC, menjadi headline di bulan November lalu saat membeli kepemilikan ConocoPhillip di lahan minyak Kashagan, Kazakhstan. Nilai transaksi pengambilalihan salah satu proyek minyak termahal di dunia itu mencapai $5 miliar. Agresi perusahaan minyak Asia di Amerika ditandai oleh kerjasama Sinopec, Sumitomo dan Devon Energy tahun lalu. Sinopec menggelontorkan dana $2,2 miliar dan Sumitomo mengucurkan $1,4 miliar dalam proyek barunya bersama Devon.

Rangkaian ekspansi bisnis itu menjadi konsekuensi dari semakin tingginya konsumsi minyak di benua kuning. "Permintaan (minyak) Asia meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir," ujar Brian Lidsky, Managing Director PLS. Akibatnya, banyak perusahaan rajin membidik lahan-lahan dan proyek baru di berbagai belahan dunia untuk mengoptimalkan pendapatannya. Sesungguhnya pembelian aset-aset minyak suatu negara oleh perusahaan dari negara lain pernah menjadi perdebatan di masa lampau. Aksi korporasi seperti itu dikhawatirkan dapat mengganggu keamanan nasional suatu negara. Momentum yang paling mudah diingat adalah penawaran CNOOC China untuk membeli produsen minyak Amerika, Unocal, pada tahun 2005. Kala itu pihak kongres sampai harus turun tangan mencegah transaksi itu urung terjadi.

Sepanjang tahun 2012, Kanada menjadi negara yang aset minyaknya banyak diambil alih oleh perusahaan luar. Beberapa analis memperkirakan pihak pemerintah akan mencermati hal ini sehingga arus pembelian aset perusahaan Kanada tidak akan sederas tahun lalu. Namun pengamat yang lebih independen justru tidak melihat alasan keamanan nasional masih relevan di tengah persaingan bisnis saat ini. Mengingat ekspansi bisnis perusahaan luar dilakukan guna memenuhi kebutuhan konsumen, yang tidak bisa menerima apabila stok minyak raib di pasaran. Selama ekspansi agresif mampu menjaga stabilitas harga konsumen, tidak ada pihak yang bisa keberatan dengan hal itu.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar