Kamis, 30 Maret 2017

world-economy  World Economy

Reformasi Struktural Yang Lebih Luas Bisa Pacu Pertumbuhan Jangka Panjang

Rabu, 18 Desember 2013 10:22 WIB
Dibaca 335

Monexnews - Indonesia diingatkan oleh Bank Dunia untuk terus melakukan reformasi yang lebih konkret, agar bisa menikmati pertumbuhan ekonomi yang kencang dan bisa memikat para investor besar. "Indonesia sangat butuh meningkatkan fokus makro pada kebijakan moneter yang lebih ketat, penyesuaian nilai tukar, dan penekanan impor, dengan reformasi lebih mendalam untuk meningkatkan kinerja ekspor dan mendukung aliran masuk investasi," seperti tertulis dalam laporan kuartalan atas ekonomi Indonesia, Senin (16/12).

Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chaves menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia telah mengambil berbagai langkah untuk memperkuat stabilisasi makro jangka pendek, terutama lewat penyesuaian kebijakan moneter dan nilai tukar rupiah. Namun, untuk memacu pertumbuhan jangka panjang, yang diperlukan adalah reformasi struktural yang lebih luas.

"Indonesia telah melewati tahun penuh tantangan dengan jatuhnya permintaan ekspor dan harga komoditas, selain pasar modal yang bergejolak dan sulitnya memperoleh dana eksternal. Namun, kebijakan moneter telah mendukung penyesuaian ekonomi," kata Chaves.

Dia menambahkan, Indonesia akan menerima manfaat bila pemerintah fokus pada investasi yang bersifat jangka panjang karena Indonesia memerlukan lebih banyak investasi. "Langkah-langkah perbaikan terhadap iklim usaha sangat penting untuk menarik investasi. Membuat peraturan perdagangan dan logistik lebih sederhana juga dapat membantu meningkatkan ekspor," katanya.

Dalam laporan terpisah, IMF menyampaikan bahwa reformasi yang fokus pada hambatan-hambatan struktural dalam pertumbuhan ekonomi, penghapusan subsidi BBM, kebijakan perburuhan yang lebih fleksibel, rasionalisasi rezim investasi dan perdagangan, dan memperdalam pasar finansial merupakan hal yang mendesak untuk dilakukan.

"Pertumbuhan jangka menengah diharapkan mencapai rata-rata 6%, lebih rendah dari proyeksi 6,5-7% yang disampaikan dalam diskusi terakhir, terutama diakibatkan oleh kondisi finansial yang lebih ketat, prospek global yang melemah, dan terus terjadinya bottleneck pada suplai," kata IMF.


Sumber: rilis berita Kementerian Keuangan Republik Indonesia

www.kemenkeu.go.id


*disadur tanpa perubahan

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar