Senin, 25 September 2017

world-economy  World Economy

Renminbi Makin Sulit Diprediksi

Jumat, 28 Februari 2014 10:15 WIB
Dibaca 481

Monexnews - Dalam hampir dua tahun terakhir, nilai tukar Yuan konsisten menguat terhadap Dollar. Trend pelemahan nilai tukar yang dulu berlangsung cukup lama akhirnya terhenti setelah pemerintah negara-negara maju membawa isu currency wars ke forum internasional. China, yang dituding sebagai biang perang valuta, secara perlahan mau menuruti keinginan Amerika dan Eropa dengan membiarkan pasar menggerakkan kurs domestiknya. Setidaknya sampai akhir tahun lalu.

Kondisi berbalik anomali dalam sekitar enam hari terakhir, investor dikejutkan oleh pelemahan Yuan terhadap Dollar mencapai 1%. Hal seperti ini jarang terjadi karena pemerintah pernah berjanji untuk melepas pergerakan kurs ke pasar. Satu US Dollar kemarin (Kamis 27/02) dihargai 6.12 Yuan atau lebih tinggi dari kurs akhir Januari lalu yakni di 6.04. Meskipun terlihat kecil, rasio pelemahan renminbi cukup berdampak signifikan mengingat area pergerakan di pasar valuta, khususnya untuk pair USD/CNY, memang tidak terlalu lebar.

Bank sentral China dituding menjadi penyebab depresiasi Yuan, walaupun pelaku pasar tidak terlalu mengetahui alasan apa yang ada di baliknya. Bisa jadi People's Bank of China sedang berupaya untuk mengurangi aliran 'hot money' yang masuk ke pasar keuangan. Hot money sendiri adalah istilah yang dipakai untuk mewakili dana masuk dari pemodal luar negeri ke aset-aset China. Biasanya hot money mengalir karena investor ingin meraup return investasi yang lebih tinggi dari suku bunga yang lebih tinggi di negara lain. Dengan menutup aliran modal asing, pemerintah bisa melindungi sektor perbankannya, yang sedang terancam oleh aktivitas 'shadow banking'. 

Semakin deras aliran 'hot money' ke pasar keuangan suatu negara, maka semakin rentan sistem finansial negara itu terhadap guncangan. Risiko inilah yang kemungkinan coba dikurangi oleh Bank Sentral China, yakni dengan cara menurunkan nilai tukarnya. Otoritas bahkan dapat membuka ruang intervensi baru di pasar uang karena pemerintah juga sedang berupaya melakukan reformasi ekonomi. Fleksibilitas nilai tukar diperlukan agar pelaku usaha dan investasi bisa beradaptasi dengan paket ekonomi baru dengan lebih smooth dan di sisi lain, eksportir bisa meraup laba besar seperti lima tahun lalu. 

Seperti isu-isu sebelumnya, kali ini pihak Administrasi Valuta Asing Negara China juga menyangkal terjadinya depresiasi mata uang di luar batas normal. Menurut instansi tersebut, pergerakan kurs belakangan ini dipengaruhi oleh siklus perubahan pola investasi pelaku pasar di awal tahun. "Pergerakan naik dan turun pada nilai tukar adalah sesuatu yang normal dari mata uang yang digerakkan oleh pasar," kilah pemerintah dalam pernyataannya. 

Pun demikian, siapapun tidak bisa begitu saja menerima argumen Beijing. Mengingat penurunan nilai tukar terjadi di tengah iklim kelesuan ekonomi domestik, di mana aktivitas manufaktur terus anjlok dalam beberapa bulan terakhir. Dengan terciptanya depresiasi kurs, maka daya saing produk China akan sangat terbantu di luar negeri.

Pihak yang paling dipusingkan dengan anomali kurs USD/CNY belakangan ini tak lain adalah investor dan pelaku bisnis. Sejak pemerintah komunis berkomitmen melepas pergerakan nilai tukar, banyak pihak meyakini mekanisme kurs akan lebih terbaca. Namun kini kondisi tiba-tiba berubah karena Yuan kembali terkoreksi dalam waktu yang relatif cepat. Pelaku pasar dipaksa untuk paham korelasi antara fakta ekonomi dan peta kebijakan bank sentral, karena otoritas moneter bisa saja memasung nilai tukar apabila segala sesuatu menyimpang dari tujuan utama.

[Kurs USD/CNY pagi ini terpantau semakin menguat ke 6.1554]

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar