Minggu, 28 Mei 2017

world-economy  World Economy

Review Wall St: Bulan Agustus yang Kelabu

Senin, 2 September 2013 11:22 WIB
Dibaca 566

<span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;">Monexnews - Bulan Agustus seakan menjadi periode terburuk bagi bursa saham Amerika Serikat di tahun 2013. Volatilitas yang melanda pasar keuangan dunia membuat rapor Wall Street ternoda di tengah iklim pemulihan ekonomi negara dengan kapitalisasi bruto terbesar sejagad.

Pasar saham di New York resmi menutup bulan Agustus dengan koreksi signifikan. Indeks utama Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 kehilangan poin antara 3% dan 4.5% sepanjang bulan lalu meskipun jika dihitung sejak awal 2013 keduanya masih menuai kenaikan antara 13% dan 15%. Sementara indeks Nasdaq mencatat kinerja lebih bagus setelah hanya turun 1% dan mampu meraup lonjakan 19% sejak Januari silam.

Aksi jual yang terjadi sepanjang Agustus lebih banyak disebabkan oleh sikap grogi investor dalam melihat skenario penarikan stimulus moneter oleh bank sentral. Mengingat jika Federal Reserve benar-benar mengurangi porsi pembelian obligasi bulanan dari angka $85 miliar maka momentum kemajuan bisnis korporasi bisa berakhir. Kondisi itu hanya akan membuat harga portofolio saham menjadi lemah dan memberi kerugian. Tidak heran kalau jelang detik-detik rapat kebijakan bulan September, aksi jual brutal merajalela di lantai bursa.

Sumber: CNN

Selain di Amerika, koreksi harga juga dialami oleh bursa-bursa saham negara emerging seperti India dan Meksiko. Indeks Sensex dan Bolsa merosot nyaris 4% di bulan Agustus. Sedangkan indeks Bovespa Brazil memang sukses mencatat penguatan bulanan hampir 4%, namun pergerakan pasar sangat bergejolak dalam empat pekan terakhir. Pembicaraan tentang reduksi stimulus menyebabkan investor lebih selektif untuk menempatkan dananya di negara emerging. Di Tokyo dan London, indeks Nikkei dan FTSE masing-masing melemah sebanyak 2% atau tampil beda dibandingkan bursa China. Indeks Shanghai Composite menguat 5% di bulan Agustus dan Shenzhen index (Nasdaq-nya China) melonjak hampir 6%.

Performa Buruk Indeks Amerika

Ketiga indeks utama di Negeri Paman Sam menutup pekan terakhir bulan Agustus dengan pelemahan sekitar 2%. Volume perdagangan sudah menurun sejak awal minggu, sesuai dengan siklus yang kerap terjadi di bulan Agustus. Di samping mencermati tanda-tanda pengurangan stimulus moneter, pelaku pasar juga memusatkan perhatian ke Timur Tengah. Ancaman militer pihak Washington ke negara Syria mendominasi headline media-media dalam dua pekan belakangan. Isu tersebut semakin memanas sehingga menurunkan minat investasi pada aset berisiko seperti saham. Sementara di sisi lain, eskalasi konflik yang bertambah tinggi justru melambungkan harga minyak mentah. Investor khawatir suplai energi dari Timur Tengah berkurang di tengah potensi perang besar antara dua blok sehingga aksi borong sempat terjadi di pasar komoditi. Emas juga kebagian imbas dari meningkatnya ketegangan politik di berbagai negara Afrika dan kawasan Arab. Seperti biasa, emas diuntungkan oleh statusnya sebagai aset lindung nilai (safe haven) yang laku keras di kala kondisi dunia sedang tidak menentu.

Rencana agresi militer Amerika ke Syria mendapat penolakan dari berbagai pihak dalam beberapa hari belakangan. Pihak kongres meminta pemerintah untuk melaporkan lebih dulu hasil penyelidikan intelijen sebelum mengambil sikap lebih jauh. Tidak hanya dari dalam negeri, penolakan juga datang dari negara-negara sekutu barat seperti Inggris. Perdana Menteri Cameron dan pihak parlemen sepakat untuk menunda voting soal keterlibatan negara ini dalam invasi ke Syria. Pejabat pemerintah Inggris tidak ingin pengorbanan tenaga dan anggaran mereka menjadi mubazir sebagaimana apa yang pernah terjadi saat Inggris turut ambil bagian dalam intervensi politik di Irak. Jika mengacu pada dinamika kebijakan luar negeri, baik di Amerika dan Inggris, maka bisa diartikan jalan menuju perang belum terlalu dekat asalkan pihak Syria juga tidak terlalu agresif dalam menekan pihak pemberontak. Indikasi penggunaan senjata kimia lebih lanjut oleh pihak Bashar al-Assad hanya akan mempercepat terwujudnya skenario perang.

Aksi Emiten

Akhir pekan lalu, saham yang performanya paling diperhatikan investor adalah Krispy Kreme (KKD). Saham produsen donat ini merosot 15% setelah perseroan gagal meraup laba sesuai target analis pasar. Tidak hanya itu, redupnya masa depan bisnis Krispy Kreme tercermin dari penurunan target laba perusahaan untuk satu tahun penuh. Pun demikian, harga sahamnya masih lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan pembukaan sesi perdagangan awal 2013 lalu.

Sementara itu, saham pemain sektor energi, Apache (APA), meroket tinggi setelah perusahaan mengumumkan penjualan 33% sahamnya di proyek migas Mesir kepada Sinopec. Nilai transaksi tersebut berkisar di angka $3.1 miliar. Analis pasar saham Amerika cukup senang merespon kabar ini dan menilai kesepakatan antara dua pihak adalah win-win solution. Bursa saham Amerika hari ini (Senin 02/09) diliburkan karena memperingati hari buruh. Indeks saham Dow Jones hari Jumat lalu ditutup pada posisi 14,810.31 (-0.21%) dan S&P 500 berakhir di level 1,632.97 atau turun 0.3%. Sementara Nasdaq menutup sesi dengan pelemahan sebanyak 0.8% ke level 3,589.87.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar