Kamis, 21 September 2017

world-economy  World Economy

Ribuan Kantor Bank Eropa 'Raib' Ditelan Krisis

Senin, 12 Agustus 2013 12:58 WIB
Dibaca 744

Monexnews - Pada setiap terjadinya 'Armageddon' di sistem keuangan dunia, industri perbankan selalu menjadi sektor pertama yang mengalami pukulan telak dalam neraca keuangannya. Konsekuensi ini dimungkinkan karena biasanya kerusakan pasar finansial bermuara pada instabilitas pos investasi bank-bank, khususnya yang berbasis di negara maju. Contoh paling sahih dari eratnya jalinan bisnis operasional bank dan dinamika di dunia keuangan adalah pada saat terjadinya krisis 2008 dan krisis hutang Eropa dua tahun lalu. Bank-bank dan unit usaha berbasis investasi banyak yang gulung tikar dan kalaupun bisa selamat, itu harus melalui campur tangan pemerintah via program dana talangan.

Krisis berantai yang menghantam pasar keuangan Eropa bahkan memaksa beberapa bank jungkir balik menyelamatkan eksistensinya. Salah satu strategi yang paling populer adalah dengan mengurangi jumlah kantor cabang dengan tujuan utama tak lain uadalah ntuk mengurangi pengeluaran. Menurut data statistik European Central Bank (ECB) yang dilansir oleh Reuters, sebanyak 20.000 kantor perwakilan bank di wilayah Uni Eropa tutup sejak krisis melanda tahun 2008 silam. Untuk tahun lalu saja, sebanyak 5.500 kantor cabang atau setara 2.5% dari total perwakilan bank komersil Uni Eropa 'raib' begitu saja akibat kebijakan pusat.

Jika berkaca pada jumlah kantor cabang bank yang tutup pada tahun 2011 (7.200 lokasi), angka penutupan tahun lalu termasuk lebih kecil. Namun tentu saja hal itu bukanlah suatu fenomena yang menggembirakan karena berarti banyak bank masih harus berjuang menghemat pengeluarannya. Selain dipengaruhi oleh faktor pengeluaran, penutupan kantor-kantor cabang juga disebabkan oleh peralihan tata layanan sistem ke online dan servis via telepon.

Dalam empat tahun terakhir sampai dengan 2012, bank-bank Eropa telah memangkas jumlah kantor cabang sebanyak total 8%. Kini jumlah cabang tinggal 218.687 atau jika dirata-rata maka satu cabang melayani 2.300 nasabah. Bank di negara-negara dengan krisis parah mendominasi daftar penutupan cabang, dipimpin oleh Yunani, dengan rasio pengurangan kantor mencapai 5.7%. Sebanyak 210 cabang dihilangkan karena bank-bank di negara itu memilih untuk merjer dengan perusahaan sejenis supaya bisa tetap eksis di industri keuangan. Trend penutupan kantor perwakilan diprediksi berlanjut tahun ini khususnya jika mengacu pada efek negatif dari krisis yang timbul di negara tetangga, Siprus.

Di Spanyol, kerugian pinjaman bank-bank membuat pelaku perbankan mati-matian mengencangkan ikat pinggang anggaran masing-masing. Penutupan sebanyak 1.963 cabang atau setara 4.9% sepanjang 2012 dapat menunjukkan betapa sektor perbankan sangat terpukul oleh instabilitas bisnis finansial kawasan. Hal yang sama terjadi pula di Irlandia, di mana sebanyak 3.3% cabang hilang ditelan kebijakan perseroan atau sedikit lebih buruk ketimbang bank-bank Italia, yang kantor perwakilannya berkurang 3.1% di akhir 2012.

Namun demikian, tidak semua pelaku industri perbankan menderita akibat trend penurunan aktivitas bisnis dan ekonomi Eropa. Mereka yang beroperasi di negara-negara dengan fondasi sistem finansial kuat justru sedang giat berekspansi melalu pembukaan cabang-cabang baru. Polandia misalnya, jika diakumulasi pertambahan jumlah kantor cabang bank-bank di negara ini mencapai 4% sepanjang 2012. Tingkat pembukaan cabang baru di Polandia lebih besar dibandingkan negara seperti Rep. Ceko dan Lithuania, yang masing-masing mencatat kenaikan sebesar 2.3% dan 1.8%. Tetapi tetap saja, pembukaan kantor layanan baru di negara-negara tadi tidak mampu mengimbangi tingginya jumlah penutupan kantor di seluruh wilayah Eropa

Selain mengalami kenaikan dan penurunan, ada pula negara yang jumlah kantor bank relatif stabil seperti Inggris. Data ECB menunjukkan jumlah bank-bank yang melayani nasabah tidak bergeser dari angka 11.870, sebuah kabar yang baik bagi pelaku industri kawasan. Mengingat Inggris merupakan salah satu kiblat perekonomian Eropa yang menentukan optimisme pemulihan bisnis keuangan dunia. Hasil penelitian ECB dilakukan terhadap bank-bank di 27 negara anggota untuk tahun buku 2012, minus negara ke-28 yang baru saja bergabung dengan Uni Eropa, yaitu Kroasia. 

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar