Rabu, 18 Oktober 2017

world-economy  World Economy

Risiko Inflasi Indonesia Berangsur Mereda

Selasa, 1 Oktober 2013 12:20 WIB
Dibaca 753

Monexnews - Tekanan inflasi Indonesia perlahan mereda di penghujung kuartal III 2013. Efek negatif dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sudah mencapai puncaknya di bulan Agustus dan Juli. 

Dampak negatif dari penyesuaian harga BBM bersubsidi pada bulan Juni lalu sudah dicerna dengan baik oleh pelaku ekonomi Indonesia. Harga produk-produk konsumen berangsur stabil dan membentuk ekuilibrium baru. Hasil data CPI terbaru kemungkinan bisa mendorong lembaga-lembaga keuangan untuk merevisi turun target inflasi akhir tahun.

"Dampak dari kenaikan harga BBM sepertinya sudah sepenuhnya diserap oleh sektor ekonomi, pemerintah juga cukup berhasil mengelola kebijakan impornya," demikian pendapat Ekonom Standard Chartered, Eric Sugandi sebagaimana dilansir oleh Dow Jones NewsWires. StanChart sebelumnya mematok target inflasi di level 9.5% untuk akhir tahun 2013, namun revisi turun bisa saja dilakukan jika berkaca pada data inflasi September yang semakin kondusif.

Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik Indonesia baru saja melepas laporan inflasi bulan September. Indeks Harga Konsumen atau CPI naik 8.4% dibandingkan periode yang sama tahun 2012 atau lebih rendah dibandingkan kenaikan bulan Agustus (8.8%).

Inflasi tahunan September juga lebih kondusif dibandingkan estimasi analis beberapa saat sebelumnya (ekspektasi 9.0%). Secara bulanan, inflasi Indonesia adalah sebesar 0.35% atau sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi bulanan Agustus, yang sebesar 0.30%. Inflasi inti naik 4.72% dibandingkan September tahun 2012, dan lebih tinggi dibandingkan kenaikan bulan Agustus yang sebesar 4.48%.

Berbagai faktor mempengaruhi torehan angka inflasi di penghujung kuartal III. Lonjakan inflasi impor terjadi karena pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar yang sudah mencapai 16% sepanjang tahun ini. "Depresiasi double-digit Rupiah sejak bulan Mei memicu revisi naik pada harga-harga, walaupun beredar asumsi kalau beberapa komponen harga bergerak stabil di bulan September," urai Gundy Cahyadi, Ekonom DBS. Meski untuk saat ini inflasi tahunan cenderung mereda, kenaikan lanjutan dalam beberapa bulan ke depan akan memaksa bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga pasca kenaikan total sebanyak 150 basis poin sejak bulan Juni lalu.

 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar