Minggu, 26 Maret 2017

world-economy  World Economy

Rupiah Stabil Pasca Rilis Dua Data Penting

Jumat, 2 Mei 2014 12:22 WIB
Dibaca 475

Monexnews - Puja puji diberikan oleh beberapa lembaga keuangan kepada Bank Indonesia dan pemerintah pasca keluarnya dua data ekonomi penting pagi ini. Memudarnya tekanan inflasi dan terciptanya surplus di sektor perdagangan menjadi sinyal keberhasilan otoritas dalam menjaga stabilitas moneter. 

Menurut lembaga keuangan Bank of America Merrill Lynch, defisit transaksi berjalan kini menipis dari 2% pada kuartal IV 2013 menjadi 1.8% dari nilai GDP nasional saat ini. Hal itu merupakan kabar baik sekaligus modal bagi penguatan nilai tukar Rupiah, yang sepanjang tahun lalu sempat melemah 21% terhadap Dollar. Sayangnya, hari ini Rupiah justru relatif tenang menyikapi hasil data terbaru. Kurs USD/IDR stabil di kisaran 11.535 setelah kemarin ditutup pada level 11.555. Bank of America menilai pelaku pasar sudah mengantisipasi hasil data dan lebih terfokus pada hasil pemilihan umum. Mereka lebih ingin mengetahui kebijakan jangka panjang pemerintah ketimbang mengambil posisi berdasarkan hasil laporan ekonomi yang kerap kali hanya bersifat temporer.

Seperti diketahui, Indonesia mengalami deflasi di bulan April kemarin karena harga-harga di level konsumen turun 0.02%. Consumer price index, indikator inflasi nasional, naik 7.25% dibandingkan bulan April 2013 atau lebih rendah dibandingkan torehan inflasi periode Maret yang sebesar 7.32% dan inflasi Februari yang sebesar 7.75%. Sementara trade surplus muncul di angka $670 miliar atau lebih rendah dibandingkan torehan bulan Februari ($785 miliar) dan jauh lebih bagus dibandingkan prediksi 10 ekonom yang disurvei Wall Street Journal yakni sebesar $520 miliar.

Nilai ekspor Indonesia pada bulan Maret 2014 mencapai US$15.21 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 3.95% dibandingkan ekspor Februari 2014. Demikian juga bila dibandingkan dengan periode Maret 2013, ekspor mengalami peningkatan sebesar 1.24%. Adapun nilai impor Indonesia turun 2.3% (on year) menjadi US$14.54 miliar, namun lebih tinggi 5.4% dibandingkan satu bulan sebelumnya. Surplus yang dihasilkan pada bulan Maret dipengaruhi oleh penurunan minat beli masyarakat terhadap produk impor berkat kebijakan pajak yang ketat dari pemerintah.

 (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar