Selasa, 23 Mei 2017

breaking-news GBPUSD turun ke 1.2972 pasca teror bom di Inggris

world-economy  World Economy

'Rusia Dihantui Gelombang Pailit'

Selasa, 13 Januari 2015 16:15 WIB
Dibaca 663

Monexnews - Kebijakan suku bunga memang merupakan alat yang efektif untuk menciptakan stabilitas moneter dan nilai tukar. Namun di sisi lain, keberadaannya sangat mempengaruhi prospek bisnis di sektor swasta. Rusia adalah salah satu negara yang menghadapi dilema karena hal ini.

Menurut Kepala Asosiasi Perbankan Rusia, Anatoly Aksakov, banyak perusahaan mulai kehabisan uang kas akibat tren perlambatan ekonomi dan instabilitas mata uang Ruble. Apabila tidak ada solusi dari pemerintah, dalam waktu dekat diprediksi akan banyak pelaku bisnis yang gulung tikar. "Rusia menghadapi arus kebangkrutan, bukan hanya lembaga kredit yang mengalaminya namun juga perusahaan swasta," ujar pria yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Komisi Pasar Keuangan Rusia ini.

Aksakov meminta bank sentral memangkas suku bunga dari 17% menjadi 15% dalam pertemuan mendatang. Kemudian suku bunga harus turun lagi secara bertahap ke level sebelum krisis yakni di 10,5%. Suku bunga 17% yang berlaku sekarang dianggap memberatkan karena dengan interest rate sebesar itu, artinya perusahaan harus membayar bunga pinjaman sampai 30%.

Sebagaimana diketahui, kombinasi antara penurunan kinerja ekonomi dan depresiasi mata uang Ruble telah memaksa pemerintah Rusia mengambil kebijakan tidak populer berupa penetapan suku bunga tinggi. Pada hari Senin kemarin, kurs Ruble anjlok lagi 1,3% terhadap US Dollar seiring dengan penurunan harga minyak dunia. Performa harga minyak yang buruk telah menjatuhkan nilai mata uang Rusia sampai 40% sepanjang 2014.

Cadangan devisa Bank Sentral Rusia dikabarkan mulai mengering di akhir tahun lalu. Tabungan US Dollar Moskow ludes karena dipakai untuk membendung pelemahan kurs Ruble secara terus menerus. Dalam 12 bulan terakhir, Bank of Russia sudah membobol kas lebih dari $110 miliar atau sekitar $1.370 triliun untuk mengawal nilai tukar Ruble. Jumlah itu setara dengan seperempat total devisanya yang tersisa yang sekitar $390 miliar dalam bentuk emas dan aset luar negeri.

Belanja devisa semakin gencar dilakukan dalam beberapa pekan terakhir sebelum tahun baru 2015. Sejak awal Desember lalu, Bank of Russia melepas lebih dari $21 miliar ke pasar uang demi membendung depresiasi valuta. Upaya tersebut memang membuahkan hasil, namun efektivitasnya juga ditunjang oleh program bantuan pemerintah untuk sektor perbankan. Rusia berencana meng-injeksi 1 triliun Ruble (sekitar $18,6 miliar) lagi ke buku kas bank-bank komersial mulai tahun ini dan menetapkan aturan jaminan deposito maksimal 1,4 juta Ruble. Sayangnya pemerintah belum mempunyai formula ampuh untuk membantu penyelamatan bisnis sektor swasta. Untuk jangka pendek, penurunan suku bunga setidaknya diperlukan agar bunga pinjaman bank tidak memberatkan pelaku usaha di tengah iklim resesi. Sebagai catatan, buruknya kualitas dan prospek kredit hutang membuat Rusia terancam masuk status 'junk' dalam daftar rating kredit lembaga Standard & Poor's dan Fitch. 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar