Rabu, 26 Juli 2017

world-economy  World Economy

Rusia Tagih Uang Muka dan Tunggakan Gas ke Pemerintah Ukraina

Selasa, 6 Mei 2014 12:13 WIB
Dibaca 907

Monexnews - Sejak pertama kali berdiri sebagai sebuah negara, Ukraina memang sangat bergantung kepada Rusia dalam upaya pemenuhan sumber dayanya. Kini setelah keduanya berseteru, tagih utang-piutang pun tak terhindarkan.

Rusia menyuplai 30% kebutuhan gas alam negara-negara Eropa, dan separuh dari persentase tersebut dialirkan melalui wilayah Ukraina. Di tengah ketidakpastian krisis antara kedua negara, penghentian suplai energi akan sangat menyusahkan bagi perusahaan dan warga Eropa.

Rusia memperingatkan Ukraina untuk membayar uang muka pembelian gas alam untuk pengiriman Juni 2014 sebelum akhir bulan Mei. Jika pemerintah Kiev tidak menepatinya, maka perusahaan energi Gazprom akan menghentikan suplai ke negara itu. Ancaman Rusia itu diutarakan saat pertemuan antara pemerintah kedua negara dan Uni Eropa berlangsung di Polandia pada akhir pekan lalu. Pembicaraan ini khusus membahas cara agar persediaan gas tidak terhambt meskipun Rusia dan Ukraina sedang mengalami konflik.

Menurut Menteri Energi Rusia, Alaxander Novak, Gazprom akan mengirimkan tagihan gas untuk periode Juni pada 16 Mei mendatang dan Ukraina memiliki waktu sampai akhir bulan untuk melunasinya. "Apabila tidak dibayar langsung pada tengah bulan, Gazprom akan membatasi suplai gas sampai dengan 31 Mei sebelum menutupnya secara penuh," ujar Novak. Selain meminta uang muka untuk kontrak gas bulan depan, Rusia juga membuka borok mantan negara sekutunya itu. Menurut perhitungan Gazprom, Ukraina masih menunggak hutang pembayaran gas senilai $3.5 miliar untuk pemakaian di masa lalu yang harus segera dilunasi.

Sejak krisis berlangsung, Rusia semakin kejam dalam menghadapi Ukraina di antaranya dengan menaikkan tarif gas sekitar 80% menjadi $485.50 per ribu kubik meter. Sebagai perbandingan, Gazprom hanya mengenakan harga rata-rata $377.50 untuk konsumennya di negara-negara Uni Eropa lainnya di tahun 2013.

Pemerintah Kiev menuding Rusia melakukan diskriminasi sekaligus menyatakan diri tidak mampu membayar tarif sebesar itu. Pemerintah Uni Eropa tidak bisa membantu lebih jauh karena mereka sendiri belum mandiri di sektor energi. Volume impor energi Rusia melonjak 15% tahun lalu.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar