Minggu, 22 Januari 2017

breaking-news Penjualan Ritel Inggris turun -1.9% di Desember vs. 0.2% di November, ekspektasi -0.1%.

world-economy  World Economy

Sektor Industri Diklaim jadi Biang Lonjakan Impor Indonesia

Senin, 2 Juni 2014 14:23 WIB
Dibaca 428

Monexnews - Kombinasi antara penurunan ekspor dan kenaikan impor di bulan April 2014 menyisakan defisit perdagangan sebesar $1.97 miliar bagi Indonesia. Angka itu jelas lebih buruk dibandingkan ekspektasi pelaku pasar, yang memperkirakan surplus $260 juta.

Sesuai laporan Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa saat lalu, nilai ekspor Indonesia bulan April 2014 adalah sebesar US$14.29 miliar atau mengalami penurunan sebesar 5.92% dibanding ekspor Maret 2014. Demikian juga bila dibandingkan dengan April 2013, nilai ekspor turun sebesar 3.16%. Di sisi lain, nilai impor bulan April justru naik 11.93% dibandingkan Maret 2014 ke angka US$16.26 miliar.

Impor non-migas mencapai US$12.56 miliar atau naik 19.32% dibandingkan Maret 2014 dan apabila dibandingkan April 2013, impor non-migas turun 2.11%. Sementara impor migas April 2014 mencapai US$3.70 miliar atau turun 7.55% dibandingkan Maret 2014 dan jika dibandingkan dengan impor April 2013, angkanya naik 1.76%.

Menurut lembaga keuangan ANZ, lonjakan impor dipengaruhi oleh efek penguatan nilai tukar Rupiah dan meningkatnya aktivitas manufaktur. Mayoritas kenaikan impor terjadi pada produk-produk untuk keperluan produksi pabrik seperti mesin dan alat berat. Trend penguatan Rupiah beberapa pekan terakhir mendorong importir untuk memesan barang-barang dari luar negeri. "Indonesia memang sukses memperkuat sektor industrinya. Namun dampak jangka pendeknya tentu adalah penurunan kinerja neraca perdagangan untuk sementara waktu," demikian ulas Glenn Maguire, Ekonom ANZ. Menurutnya, negara ini harus lebih dulu merasakan 'sakit' sebelum mengambil manfaat dari siklus ekonomi seperti itu.

Pasca rilis data perdagangan, mata uang Rupiah siang ini langsung terjun ke posisi terendahnya terhadap Dollar, yakni di level 11.780 (minus 0.7%). Kurs Rupiah tersebut adalah yang terendah sejak 24 Februari 2014. Pelaku pasar terkejut dengan hasil laporan perdagangan dan melakukan aksi jual besar-besaran karena angka trade balance jauh di bawah estimasi. 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar