Selasa, 24 Januari 2017

world-economy  World Economy

Sekutu Syria Kecam Balik Rencana Amerika

Jumat, 6 September 2013 11:59 WIB
Dibaca 579

Monexnews - Pemimpin 20 negara perekonomian terbesar dunia dijadwalkan berkumpul di St. Petersburg, Rusia guna menghadiri forum akbar G20. Tensi diskusi diperkirakan jauh lebih panas dibandingkan sebelumnya karena fokus pembahasan terkait erat dengan isu perang.

Konflik Syria dipastikan akan menjadi salah satu materi pembahasan dalam forum G20 di Rusia. Kubu-kubu yang biasanya damai ketika membahas soal kerjasama ekonomi kini diprediksi berseberangan karena perbedaan kepentingan. Isu yang membelah opini negara-negara maju tak lain adalah wacana penyerangan Amerika ke Syria untuk memberangus rejim Bashar al-Assad. Sebagai sekutu Damaskus, Rusia menentang keras intervensi Washington dalam perang saudara di Timur Tengah.

Potensi perang semakin besar karena di belakang al-Assad juga berdiri Iran, yang diklaim memiliki sumber daya nuklir tak terbatas. Pihak Teheran beberapa saat lalu menuding Amerika telah bertindak arogan dengan mencampuri urusan negara lain. "Mereka (Amerika) tidak berhak mengusung alasan kemanusiaan dalam upaya agresi Syria, karena rekam jejak mereka juga tidak kalah buruk," ujar Ayatullah Khameini, pemimpin politik paling terkenal di Timur Tengah. Opini Khameini merujuk pada perlakuan tentara Amerika terhadap musuh-musuh perang di Irak, Afghanistan dan tahanan penjara Guantanamo, Cuba. Ia juga memperingatkan bahwa Amerika akan kalah kalau sampai rencana perang diwujudkan. 

Komentar Khameini nyaris berbarengan dengan pernyataan resmi pertama grup garis keras, Hizbullah. Salah satu kelompok paling disegani di Timur Tengah ini mengklaim bahwa setiap tindakan agresif terhadap pemerintah Syria merupakan suatu aksi teror dan institusi yang terorganisasi. "Ancaman Amerika disebar untuk menutupi mobilisasi kekuatan yang sedang dilakukan oleh Israel untuk melawan musuh-musuhnya," demikian pernyataan organisasi itu.

Dari sekian banyak sekutu Syria yang menyerukan penolakan terhadap perang, mungkin hanya pihak Rusia yang berkesempatan menyampaikan langsung pendapatnya ke telinga presiden Obama di forum G20. Hasil adu argumentasi antara keduanya akan sangat menentukan kondisi ekonomi dan prospek pasar keuangan dunia. Apabila tidak ada titik temu dan perang tidak bisa dihindari, maka minat investasi terhadap aset berisiko seperti saham dan valuta diyakini kendur lagi. Produk safe-haven seperti emas dan Dollar biasanya menguat di tengah gejolak geopolitik, sementara minyak mentah juga bersiap naik karena ditopang oleh potensi penurunan suplai dari negara produsen.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar