Jumat, 20 Oktober 2017

world-economy  World Economy

Selain Alumunium, Aturan Ekspor RI juga Pengaruhi Harga Nikel dan Tembaga

Senin, 27 Januari 2014 13:38 WIB
Dibaca 807

Monexnews - Larangan ekspor produk mineral mentah yang diberlakukan oleh pemerintah Indonesia diyakini berdampak bagus terhadap kinerja harga hasil bumi, khususnya nikel. Menurut tim riset Bank of America-Merrill Lynch, harga nikel akan stabil untuk sementara waktu sebelum nantinya menjalani fase kenaikan di kuartal III. 

"Persediaan nikel melegakan produsen NPI (nickel pig iron), namun lambat laun pertumbuhan produksi nikel China akan turun sehingga surplus persediaan dunia berkurang," demikian urai Merrill Lynch dalam rilisnya hari ini. Lembaga keuangan ini mempertahankan target harga nikel di level $17,000/ton pada kuartal IV silam. Sementara untuk hasil bumi tembaga, pangsa pasarnya diprediksi melemah di semester II namun level harganya masih mampu bertahan di atas $7,500/ton pada paruh pertama 2014. Lesunya laju pertumbuhan ekonomi China, konsumen mineral terbesar dunia, akan berakibat pada penurunan jumlah permintaan hasil bumi. Kontrak tembaga LME 3-bulan kini terpantau pada level $7,193.50/ton, atau naik $13.50. Sedangkan nikel terpantau pada posisi $14,441/ton, atau turun $44 dibandingkan level penutupan sebelumnya.

Seperti diketahui, pemerintah resmi melarang ekspor produk mineral mentah ke luar negeri per bulan ini. Langkah kabinet Susilo Bambang Yudhoyono dipercaya akan menyusahkan perusahaan logam olahan, khususnya mereka yang berproduksi di wilayah China.

Selain diklaim sebagai konsumen nikel dan tembaga terbesar sejagad, China juga merupakan salah satu produsen alumunium terbesar dunia. Perusahaan alumunium di sana keberatan dengan aturan terbaru tentang ekspor mineral, mengingat bahan baku bauksit untuk alumunium biasanya dipesan dari Indonesia. Menurut Chairman Alcoa, produsen alumunium terbesar dunia, larangan ekspor mineral mentah akan berdampak pada kapasitas produksi smelter dan refinery pabrik China. “China jelas cemas dengan kebijakan Indonesia, itu terlihat jelas," ujar Klaus Kleinfeld kepada media Sidney Morning Herald, beberapa pekan lalu. Kleinfeld mengatakan kalau dalam beberapa bulan terakhir menjelang diberlakukannya larangan ekspor bauksit oleh Indonesia, China menambah pembelian bauksit dalam jumlah besar.

Pada 2013 lalu impor bauksit China naik sekitar 80% di tengah kenaikan jumlah produksi alumina (bahan dasar alumunium) sebesar 18-20%. "Para produsen China sudah mulai mengurangi ketergantungan terhadap supplier Indonesia. Mereka siap menghadapi larangan ekspor sehingga biaya produksi tidak akan banyak berubah," urai Fitch.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar