Selasa, 25 Juli 2017

world-economy  World Economy

Soros: Posisi China Dilematis, antara Ekonomi dan Hutang

Kamis, 9 Januari 2014 14:06 WIB
Dibaca 886

Monexnews - China dijagokan menjadi motor penggerak ekonomi dunia di tahun 2014 oleh banyak pemimpin dunia. Namun prospek ekonomi negara ekonomi terbesar Asia ini sesungguhnya tidak terlalu bagus karena jumlah hutang yang menggunung. Guru investasi kenamaan, George Soros, bahkan sampai harus mewanti-wanti pelaku pasar supaya berhati-hati menyikapi dinamika politik ekonomi China.

Berbeda dengan pakar keuangan lain yang menilai peta ekonomi 2014 bergantung pada Amerika Serikat dan zona Euro, Soros justru melihat peran China jauh lebih besar nantinya. Ia melihat kondisi neraca keuangan negeri tirai bambu sangat tidak bagus, dan berpotensi memicu perlambatan global. Situasi terkini di negara itu bahkan diklaim Soros mirip dengan kondisi Amerika sebelum krisis keuangan setengah dasawarsa lalu.

"Sangat dilematis, China ingin memajukan ekonominya namun kebijakan pemerintah di sisi lain juga akan memperbesar jumlah hutangnya," urai Soros dalam kolom Project Syndicate. Partai Komunis yang berkuasa dihadapkan pada pilihan yang sulit, terlebih lagi dampak dari kebijakan Beijing turut berpengaruh ke perekonomian global. Banyaknya program dan agenda ekonomi yang belum dituntaskan atau masih di tengah jalan makin membebani pemerintah khususnya otoritas di daerah dan provinsi. "Apabila postur hutang tidak segera diperbaiki maka iklim kondusif saat ini tidak akan bertahan dalam dua tahun ke depan," ujar Soros.

Seperti diketahui, National Audit Office dalam pernyataannya pekan lalu menyebut total hutang yang harus dibayarkan oleh pemerintah di daerah-daerah adalah sebesar 17.9 triliun Yuan ($3 triliun) atau setara Rp36 ribu triliun! Angka yang dikompilasi pada bulan Juni lalu itu jauh lebih besar ketimbang total hutang tahun 2010 yang 'hanya' 10.7 triliun Yuan.

Terlepas dari besarnya beban pembayaran pemda, kantor audit mengklaim jumlah itu masih terkendali. Pemerintah menilai total hutang pemerintah lokal masih lebih kecil dibandingkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jepang dan Spanyol. Kalaupun ada hal yang menakutkan tak lain adalah cepatnya laju pembengkakan hutang tersebut. Trend pembangunan infrastruktur beberapa tahun terakhir memang memaksa pemda untuk meminjam uang lebih banyak. Di sisi lain, kesukaan pemerintah untuk meminjam uang (kredit) menimbulkan kekhawatiran tersendiri karena dalam sejarahnya, berbagai krisis finansial berawal dari instabilitas pasar kredit.

China kini ditantang untuk menghilangkan ketergantungannya terhadap pinjaman kredit. Pemerintah pusat sedikit banyak sudah melakukan antisipasi untuk menangkal gejolak dana di pasar tahun ini. Otoritas menguji daya tahan sistem keuangan dengan memompa uang baru nyaris senilai $50 miliar untuk berjaga-jaga. Pun demikian, banyak pihak menilai pemerintah telat melakukan tugasnya karena mereka seharusnya bisa melakukan itu lebih cepat sehingga potensi kekurangan dana tunai bisa diminimalisasi.

Secara garis besar, pertumbuhan ekonomi melambat di negeri tirai bambu. China diprediksi membukukan kenaikan nilai GDP 7.6% untuk periode 2013 atau sedikit di atas target awal pemerintah pusat. Namun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, rasio pertumbuhan jelas lebih rendah. Pada 2010, China mencatat pertumbuhan GDP 10.4%, kemudian 9.3% di 2011 dan 7.8% pada tahun lalu.

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar