Kamis, 23 Maret 2017

world-economy  World Economy

Strategi Pencapaian Inflasi Jepang Mulai Dipertanyakan

Jumat, 31 Oktober 2014 11:36 WIB
Dibaca 695

Monexnews - Masyarakat dan pelaku ekonomi di Jepang mulai tidak percaya dengan kemampuan pemerintah dalam menggenjot laju inflasi harga. Pasalnya sejak stimulus diluncurkan satu setengah tahun lalu, harga-harga konsumen tidak kunjung naik dan justru cenderung memburuk.

Quantitative easing atau pelonggaran moneter yang dilakukan oleh pemerintah Jepang menuai kritik. Meski proporsinya ditambah berulangkali, warga belum juga menikmati manfaat dari kebijakan tersebut. Tidak heran jika semakin banyak orang skeptis dengan pencapaian target inflasi 2% di tahun 2015 mendatang.

"Sejak stimulus pertama kali diluncurkan, banyak orang tidak yakin dengan kemampuan pemerintah memenuhi target inflasi 2%," ujar Kepala Ekonom Goldman Sachs untuk negara Jepang, Naohiko Baba. Baba bahkan semakin yakin kalau target itu tidak akan tercapai tahun depan karena beberapa data pemerintah tidak mendukung. Opini analis Goldman Sachs juga diamini oleh Kepala Ekonom Mizuho Securities, Yasunari Ueno. Ueno justru memperkirakan inflasi inti Jepang akan jatuh ke bawah 1% di bulan Oktober, atau lebih rendah dari catatan bulan September, 1.0%. Bank sentral berargumen kalau penurunan inflasi belakangan ini bukanlah sesuatu yang harus dikhawatirkan. Kemerosotan harga-harga lebih disebabakan oleh penurunan harga minyak, yang seharusnya justru bagus bagi perekonomian.

Pada hari Selasa kemarin, Gubernur Bank of Japan (BOJ), Haruhiko Kuroda, memastikan bahwa program pelonggaran moneter akan berakhir dalam periode jabatannya yang kadaluarsa tahun 2018 mendatang. Dalam dengar pendapat di hadapan parlemen, ia menegaskan dirinya lah yang akan mengakhiri kebijakan moneter longgar saat inflasi mencapai target 2%.

Spekulasi soal waktu berakhirnya pelonggaran moneter memang mengemuka dalam beberapa pekan terakhir. Anggota parlemen ingin supaya bank sentral memberikan rasa nyaman terkait masa berlaku stimulus ekonomi. Ketika ditanya soal itu, gubernur BOJ menyatakan periode stimulus sangat tergantung pada pencapaian target inflasi 2%. "Saya optimis kalau target inflasi akan terpenuhi di tahun fiskal 2015, setelah itu baru kami akan berbicara untuk mengakhiri pelonggaran moneter," ujarnya. Bank sentral tidak mempunyai skenario lain karena tetap yakin kalau inflasi pada akhirnya akan pulih tahun depan. 

(dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar