Sabtu, 23 September 2017

world-economy  World Economy

Taipan China Kecam Campur Tangan Pemerintah di Sektor Properti

Senin, 26 Mei 2014 10:09 WIB
Dibaca 453

Monexnews - Pengetatan aturan pasar properti yang diberlakukan oleh pemerintah China dalam empat tahun terakhir menuai kecaman dari sebagian kalangan. Pihak pebisnis yang bergerak sektor tersebut menilai pemerintah ingin 'membunuh' developer atau pengambang.

Salah satu taipan properti China, Song Weiping, mengkritik habis-habisan kebijakan pemerintah terhadap pelaku industri. Ia menilai perdana menteri yang sebelumnya menjabat telah menutup ruang gerak developer skala kecil dan menengah sejak 2010. Di tengah pengetatan regulasi ini, Song terpaksa menjual sebagian besar sahamnya di perusahaan Greentown China Holdings dan mundur dari kursi presiden direksi karena bisnisnya mandek. Ia menuding pemerintah terlalu campur tangan ke sektor properti sehingga harga rumah terjun bebas dan angka penjualan menurun.

Otoritas Tiongkok memang memperketat aturan soal kepemilikan properti sejak empat tahun lalu, antara lain dengan menaikkan pajak kepemilikan rumah lebih dari satu serta menetapkan plafon harga hunian agar tidak terjadi booming. Sederet aturan tersebut diprotes oleh pihak developer karena efeknya sangat besar terhadap bisnis mereka. Song Weiping bahkan mengatakan dirinya lelah menjalankan bisnis di negara yang tidak bebas.

Sepanjang tahun ini, penjualan rumah di China tergolong lesu akibat jumlah suplai yang berlebih sehingga developer dipaksa memangkas harganya. Diskon lebih besar untuk kepemilikan rumah diyakini akan mulai berlaku dalam beberapa bulan ke depan karena iklim bisnis sektoral relatif tidak berubah. Adapun pihak yang paling terpukul oleh pengatatan pemerintah yakni developer skala kecil dan menengah, terutama mereka yang meminjam uang dalam jumlah besar untuk mengerjakan proyeknya. Jangankan melaba, untuk mengembalikan modalnya saja pihak developer harus berjuang setengah mati. "Padahal perusahaan-perusahaan kecil ini ibarat anak-anak developer besar China," ujar Song. Song Weiping sendiri dan beberapa pemegang saham dilaporkan menjual 24.3% sahamnya di Green Holdings kepada Sunac China Holdings senilai total HK$6.3 miliar atau setara $813 juta karena alasan kerugian investasi.

 (dim)

Lihat Disclaimer

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

FM Futures Magazine

futures-monthly-monexnews `

Kirim Komentar Anda

Komentar


Mohon ketik karakter yang terdapat pada gambar diatas.
Huruf tidak case-sensitive.
 

Komentar